kata-kata mutiara

Presiden Soekarno mengatakan :
"Jangan sekali-kali melupakan sejarah!"
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya"

Presiden John Fitzgerald Kennedy mengatakan :
"Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu."

Minggu, 22 Agustus 2010

Hukum Adat Untuk Dukacita Atau Hukum Adat Tiba Matei

Kepercayaan masyarakat orang Maanyan zaman Nansarunai adalah Animis, kepercayaan ini lebih dikenal dengan sebutan agama dahulu, sebutan ini sampai pada tahun 1955. Setelah tahun 1955 pemerintah mengeluarkan satu ketentuan untuk menyebutkan anggota masyarakat yang belum memeluk agama Kristen maupun Islam khusus untuk wilayah Maanyan dan Lawangan disebut Kaharingan. Masyarakat Maanyan dan Lawangan tidak mengerti darimana asal sebutan itu. Anggota masyarakat di daerah Maanyan tidak mengenal agama Kristen akan tetapi lebih mengenal dengan sebutan agama wau. Sedangkan untuk menyebut kepercayaan mereka sendiri lebih dikenal dengan sebutan agama dahulu. Kepercayaan ini masih dapat kita temukan sampai sekarang, walaupun sekarang ini berubah menjadi Hindu Kaharingan.
Pada dasarnya kepercayaan ini adalah percaya apabila seseorang yang telah meninggal dunia pasti masuk Dato Tonyong Gahamari dengan satu persyaratan adanya suatu upacara adat kematian walaupun sangat sederhana sifatnya yaitu Pakan Tulakan tanpa mengorbankan seekor binatang, akan tetapi ditular atau diadakan upacara oleh wadian matei dengan mengucapkan kata-kata petunjuk jalan ke Dato Tonyong Gahamari dengan istilah Diki Hoyong sebagaimana mestinya. Yang menjadikan dasar bahwa arwah tersebut masuk ke Dato Tonyong Gahamari adalah Diki Hoyong atau mantra yang disertai dengan lemparan beras dilanjutkan dengan ayunan pisau tua yang ditulis dengan kapur sirih pada pisau tersebut yang dinamai Luwuk. Kegunaan dari benda ini adalah merupakan penuntun arah kepada arwah yang telah meninggal ketempat yang telah ditentukan.
Ada beberapa macam upacara adat yang berkaitan dengan duka cita yang dimiliki oleh anggota masyarakat didaerah ini antara lain :
  1. Pasar Bajang, sebenarnya tidak ada upacara yang dilakukan oleh wadian, sebab pada waktu lahir langsung meninggal. Boleh dilakukan Pasar Bajang apabila baru meninggal itu berusia kurang dari 3 (tiga) bulan. Pelaksanaan Pasar Bajang, yaitu jenazah dikuburkan dicelah akar pohon kayu besar.
  2. Pakan Tulakan, adalah upacara adat tentang duka cita yang paling sederhana sifatnya yang dimiliki oleh masyarakat Maanyan dengan tanpa mengorbankan seekor binatang akan tetapi dilakukan upacara adat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  3. Jenis upacara yang ke-3 mempunyai dua kemungkinan yaitu: Pakan Handrueh Tanan Rapu atau Pakan Handrueh Nyingkap Tim'muk kedua upacara ini lebih sempurna dari kedua upacara mengenai duka cita karena adanya binatang korban seperti babi, ayam dan lain sebagainya. Serta ada juga kemungkinan diselenggarakan upacara Miya, bila keadaan memungkinkan dari segi kemampuan keluarga yang meninggal.
  4. Miya atau lebih dikenal dengan sebutan Miya Misaya, upacara ini memakan waktu 3 hari serta 3 malam. Akan tetapi dalam pelaksanaannya memerlukan waktu 4 hari 3 malam. Tujuh hari sebelumnya upacara Miya, dilakukan kegiatan mendirikan sebuah bangunan yang sangat sederhana sifatnya yaitu tempat memasak untuk keperluan Miya yang disebut Gagulang. Bangunan tersebut berada disamping rumah kearah belakang, letak bangunan ini tidak menjadi masalah yang penting terletak disamping tempat orang yang melakukan upacara Miya. Upacara Miya juga boleh mengorbankan seekor kerbau yang biasa disebut Miya Munu Kerewau. Upacara ini memakan waktu 5 hari 4 malam, biasanya ada sebuah patung dengan wajah orang yang sudah meninggal dibuat Balontang sebagai tempat untuk mengorbankan kerbau. Upacara Miya tanpa mengorbankan kerbau disebut Miya Telo Malem. Pada hari pertama upacara Miya disebut Andrau Tarawen, pada kesempatan ini kegiatan banyak terpusat pada pembuatan Puja (membuat benda-benda mirip binatang yang terbuat dari daun kelapa dan daun enau) yang diberi warna warni. Apabila sudah selesai pembuatan Puja tersebut kemudian digantungkan di Galantang (menyerupai rumah kecil). Pada Andrau Tarawen dibuat juga tempat memasang gong yang namanya juga Galantang yakni tempat Nabuh (nabuh gong), bunyi yang dikeluarkan cukup berirama sebagai tanda Miya telah dimulai.Mengorbankan seekor babi dengan beberap ekor ayam sebagai syarat dimulainya Andrau Tarawen, orang-orang yang mengatur tata cara yang berhubungan dengan kegiatan Miya disebut Pisambe Wadian. Wadian Matei yang melakukan kegiatan ini terdiri dari beberapa orang, pada malam pertama dan seterusnya sampi malam terakhir (Malam Nampatei) diadakan Tarung dan Nyunang. Sebelum dimulai Tarung dan Nyunang, biasanya didahului dengan minum tuak yang kadar alkoholnya rendah, secara bersama-sama dipimpin oleh seorang pembawa acara yang disebut Anak Tangganyungan. Setelah minum tuak selesai baru diadakan pemilihan untuk acara Narung yang berasal dari keluarga yang melakukan upacara Miya yang leboh dikenal dengan sebutan Ulun Putut Lewu. Pemilihan untuk Narung dilakukan dengan cara yang sangat demokrasi serta kekeluargan sifatnya. Dalam acara Narung tersebut dikisahkan mengenai keadaan kehidupan serta penghidupan orang yang melakukan upacara ini, dengan menggunakan kata-kata yang sangat halus serta mempunyai nilai sastra yang tinggi mutunya. Pada kesempatan ini banyak orang terharu mendengar kata-kata yang diutarakan ditengah duka cita seperti ini. Demikian juga Nyunang lebih seru lagi dari pada narung, karena merupakan satu balasan yang kata-kata yang diutarakan oleh yang melakukan narung. hari yang kedua disebut Gelanggang tempat mengadu ayam jago yang disebut Manguntur. Pada hari yang kedua ini juga mengorbankan seekor binatang (babi) dengan beberapa ekor ayam sebagai sesajen kepada arwah yang meninggal. Pada malam hari acara narung dan Nyunang, biasanya dari luar lingkungan keluarga yang datang hendak menyaksikan adu jago, akan tetapi bisa diwakili oleh pihak keluarga dari pihak laki-laki maupun pihak perempuan. Pada hari yang ke-3 disebut Andrau Irupak, kegiatan pada hari ini adalah mengadu ayam jago dimanguntur dengan menggunakan pisau kecil yang disebut dengan istilah Taji. Pada hari yang terakhir dari kegiatan Miya adalah Nantak Syukur artinya selam 3 tahun mereka harus mengingatkan arawah yang meninggal itu dengan cara mengantar sesajen ke makam yang disebut Nuang Panuk. Setelah 49 hari terhitung dari hari Nantak Syukur, ada lagi upacara yang bernama Siwah, dimana pada malam harinya diadakan kegiatan tari giring-giring yang dilakukan oleh anggota masyarakat secara bersama-sama.
  5. Ngadaton adalah upacara adat tentang duka cita yang paling tinggi nilainya dan sempurna diantara tata aturan dibandingkan upacara duka cita yang dimiliki oleh anggota masyarakat Maanyan. Upacara ini jarang sekali dilakukan oleh anggota masayarakat karena memerlukan biaya yang cukup banyak. Pada dasarnya makam tempat mengubur jasad orang dilakukan dengan upacara Ngadaton. Upacara ini dalam pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan upacara Miya. Hanya sedikit perbedaannya yaitu dari segi lamanya waktu penyelenggaraan upacara tersebut.
  • Dalam upacara Ngadaton ini dapat dibagi menjadi dua bagian antara lain :
  1. Ngadaton Patei Iwek (upacara Ngadaton memotong babi) disebut upacara Ngadaton Bujang.
  2. Ngadaton Patei Kerewau (upacara Ngadaton memotong kerbau) disebut upacara Ngadaton Jari.
Pada dasarnya kedua jenis upacara ngadaton tersebut diatas adalah tidak berbeda. Hanya perbedannya adalah dari segi pemotongan kurban sebagai persembahannya.
Kalau yang pertama hanya memotong binatang untuk persembahan babi yang berjumlah 6 (enam) ekor selama upacara berlangsung, sedangkan kalau pada upacara Ngadaton yang kedua menjadi kurban persembahannya adalah kerbau. Kerbau ini dikurbankan pada hari keempat.
Urutan hari-hari dalam penyelenggaraan upacara Ngadaton adalah sebagai berikut :
Hari pertama disebut Andrau Tarawen.
Hari kedua disebut Andrau Irumpak, yang kegiatannya tidak ada beda dengan kegiatan pada acara Miya.
Hari ketiga disebut Andrau Nyurat. Dalam acara ini kegiatan banyak berfokus pada pembuatan relief pada peti mati. Relief yang dipahat atau digambar pada peti mati tersebut menceritakan bagaimana kehidupan orang yang telah meninggal dan kehidupan nantinya di Dato Tonyong Gahamari yang serba menyenangkan . Pada hari yang ketiga tersebut terkenal dengan sebutan Andrau Nyurat Papan Binulantan (rarung). Pada acara Nyurat diperlihatkan motif seni pahat yang paling tinggi mutunya yang dimiliki atau yang ada pada masyarakat Maanyan.
Hari keempat disebut andrau Irapat, pada acara ini kegiatan ada dua bagian yang terpenting yakni acara mengadu ayam dan memotong kerbau. Pada acara memotong kerbau dilakukan dengan cara menombaknya terlebih dahulu, sma dilakukan pada acara Miya. Setelah selesai ditombak kerbau tersebut kemudian disembelih diatas sebuah lesung. Karena legenda masyarakat Maanyan secara umum binatang kerbau berasal dari seorang gadis yang tertidur pada sebuah lesung dan berubah menjadi seekor kerbau. Makatiap kali memotong kerbau harus dibaringkan pada sebuah lesung.
Setelah kerbau itu dipotong maka tubuh binatang itu ditutupi dengan kain yang disebut Sin'nai serta ditangisi oleh beberapa orang yang disebut oleh orang Maayan Nangis atau meratap.
Pada hari yang keempat inilah ada seorang yang disebut Liyo atau Dalam Liyo. Orang tersebut melakukan kegiatn meinta-minta dan kepada pengunjung acara buntang diberi tahu bahwa hari tersebut ada orang selalu eminta-minta samapai binatang pengorbanan sudah dipotong baru Dalam Liyo berhenti melakukan tugasnya. Hasil dari Dalam Liyo tersebut diberikan kepada wadian yang melakukan upacara, dan wadian yang melakukan upacara Ngadaton adalah wadian matei yang sama digunakan pada waktu Miya. Hari terakhir dari upacara Ngadaton adalah Andrau Nantak Syukur, hal ini sama juga pengertiannya dengan Nantak Syukur pada acara Miya, seperti yang telah diterangkan pada bagian sebelumnya. Pada waktu mengubur jasad orang yang dilakukan upacara adat Ngadaton ini ada yang disebut Kawalik. Kawalik tersebut merupakan pelayan bagi roh orang yang meninggal sampai di Dato Tonyong Gahamari nantinya. Pada setiap malam harinya selama acara Ngadaton berlangsung dilakukan juga acara Tarung Nyunang, yang sama seperti Miya. Demikian selam tiga tahun berturut-turut dilakukan acara dengan apa yang disebut Nuang Panuk. Pada tahun yang ketiga atau tahun penutup dilakukan acara dengan apa yang bersamaan Nuang Panuk pada pagi harinya, dan diteruskan daengan acara Miempu sebagai ucapan terima kasih kepada Hiyang Piumbung Jaka Pikuluwi yang selalu memberikan rejeki dan kemudahan dalam tahun-tahun yang sudah dilalui tersebut.
Dalam tahun yang terakhir ini jarang sekali kita semua jumpai anggota masyarakat melakukan upacara ini. Hal ini dikarenakan biaya yang mahal dan segala peraturan untuk melakukan hal tersebut sangata sulit untuk dipenuhi. Selain itu juga jumlah penganut dari kepercayaan ini semakin menipis, dipengaruhi oleh kepercayaan alainnya.
catatan : Upacara Ngadaton dengan mengikut sertakan Kawalik berlangsung sesudah hukum adat ditetapkan oleh Uria Ren'na dan Uria Biring pada abad ke-16 dan berakhir pada abad ke-19 sesudah dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda.

Hukum Adat Untuk Sukacita Atau Hukum Adat Tiba Welom Dan Hukum Adat Untuk Dukacita Masyarakat Lawangan

Ada beberapa jenis upacara adat yang dilaksanakan oleh orang Maanyan yang berkaitan dengan sukacita atau yang lazim dinamakan adalah hukum adat tiba welom. Jenis upacara adat tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Nyakit Puhet, suatu upacara yang dilakukan oleh masyarakat Maanyan, yang berhubungan dengan kelahiran anak . Menurut kepercayaan masyarakat didaerah ini apabila seseorang baru melahirkan, maka perlu diadakan selamatan atas kelahiran anak tersebut. Sesudah tali pusarnya putus, maka diadakan selamatan dengan mengorbankan seekor ayam. Darah ayam tersebut ditampung kedalam sebuah mangkok, kemudian dipercikan kepada bayi itu dengan sejenis uang logam yang biasanya oleh orang yang terlebih tua, atau orang tua bayi itu ataupun orang lain sebagai tetangga yang terdekat. Dalam kepercayaan masyarakat Maanyan apabila ada orang baru melahirkan belum diadakan Nyaki Puhet, maka banyak tetangga yang tidak mau berkunjung ke rumah orang yang baru melahirkan itu disebabkan hal itu adanya larangan tabu atau Sawuh Sam'ar. Sawuh Sam'ar tersebut bersifat sementara sebelum tali pusarnya putus.
  2. Itarukasay adalah upacara adat yang berkaitan dengan pemberian nama kepada anak bayi yang kira-kira berumur 6 (enam) bulan. Upacara ini juga merupakan penolak bala yang bisa mengganggu anak tersebut. Dalam acara ini dilengkapi dengan sesajen yang terdiri dari sebuah kelapa, gula merah dan juga dilengkapi dengan berbagai jenis kue. Demikian juga sebagai kelengkapan dikumpulkan berbagai jenis daun yang masih hidup, yang diletakkan disebuah nampan. Acara ini juga dilengkapi dengan pengorbanan seekor ayam serta darahnya ditampung didalam sebuah bali-bali (sasiri). Setelah semua sesajen yang berkenaan dengan acara Itarukasay sudah lengkap maka seseorang yang telah ditentukan bercerita tentang kehidupan serta penghidupan anak tersebut dengan suka dan duka yang mesti ia hadapi. Semua duka maupun sukanya tersebut tidak perlu ditakuti sebab segala sesuatu akan dapat diatasi. Sebab anak itu telah diserahkan kepada Hiyang Piumbung Jaya Pikuluwi atau Tuhan Yang Maha Esa yang membimbing anak itu kepada hal-hal yang berguna bagi kedua orang tuanya dan masyarakat. Demikian juga hormat kepada semua orang serta mencintai Hiyang Piumbung Jaka Pikuluwi yang membimbing anak itu sepanjang hayatnya.
  3. Isirap atau lebih dikenal dengan sebutan Isirap Mihampe, acara ini menggunakan Wadian Dusun. Sedangkan sesajen yang diperlukan didalam melakukan acara ini adalah terdiri dari 2 (dua) piring beras, 2 (dua) batang lemang atau yang disebut dengan Pasike, daging babi, ayam dan ketupat dan lain sebagainya. Semua sesajen tersebut diberikan kepada Hiyang Pimbung Jaka Pikuluwi, yang disertai dengan ucapan Diki Hiyang, yang diucapkan oleh wadian dusun. Semua yang tersedia dihadapan wadian itu merupakan persembahan sebagai ucapan terima kasih, atas penyertaan Yang Maha Kuasa sepanjang tahun terhadap kehidupan mereka. Dalam melakukan kegiatan ini biasanya dilakukan sekali dalam setiap tahun, setelah panen selesai, sebagai ucapan terima kasih yang ditujukan kepada Roh Leluhur yang telah merestui segala usaha yang mereka lakukan selama ini. Pada acara Isirap tidak ada gamelan sebagai penyerta didalam melakukan kegiatan itu. Acara ini biasanya untuk melepaskan nazar apabila berhasil dalam suatu kegiatan dan lain ebaginya. Akan tetapi didalam melakukan acara Isirap, biasanyadilakukan juga acara memerikan sesajen kepada Roh Leluhur yang bermukim dipohon kayu yang disebut Panungkulan.
  4. Miempu adalah suatu acara adat yang mempunyai dua fungsi. Pertama sebagai acara yang bersifat suka cita dan yang kedua sebagai sarana pengobatan orang sakit. Sebagai acara suka cita biasa, Miempu biasa menggunakan Wadian Bawo, Dadas dan Amunrahu. Akan tetapi bisa juga menggunakan wadian tersebut secara bersama-sama disatu tempat, misalnya Wadian Bawo bersama dengan Wadian Dadas yang disebut Raung Wundrung. Pelaksanaan wadian ruang wundrung ada perbedaan didalam melakukan Diki Hiyang serta sesajen, dengan wadian biasa, hanya memakai acara yang sama. Tujuan gabungan kedua wadian tersebut, sama-sama mengucapkan terima kasih kepada Hiyang Piumbung Jaya Pikuluwi. Dalam acara Miempu biasa juga dilakukan acara memandikan seseorang bayi serta disebut Mubur Walenon, artinya memandikan seorang anak bayi serta menyebut namanya yang diberitahukan kepada Wayu atau Diwata Ranu atau penguasa air agar anak itu selanjutnya perlu dijaga olehnya. Dalam Upacara Mubur Walenon merupakan ucapan terima kasih dari orang tuanya dengan menyelam didalam air sambil makan telur serta menanamkan tumbuhan seperti Kambat, yang disebut oleh oarang Maanyan dengan istilah Nyelem Taranang. Dalam acara ini biasanya memotong binatang babi serta ayam dan perlengkapannya yang lain mesti disediakan antara lain : katupat, pasike atau lemang dari beras dan beras yang diletakkan didalam sebuah tikar kecil berbentuk cembung yang disebut Nanah, tempat meletakkan gantungan yang terbuat dari daun kelapa muda atau daun enau yang disebut dengan Ibus yakni pada daun tersebut diikat beberapa lembar kain panjang perempuan atau Bahalai dan sebagainya. Apabila acara Miempu yang bersifat pengobatan orang yang sakit setelah dilakukan dengan cara melihat apa jenis penyakitnya dengan sebutan Mi'ini yakni mendeteksi penyakit secara paranormal yang diteruskan dengan pengobatan pertama yang disebut Iwuras. Iwuras tersebut dengan menggunakan beras dan kencur yang dikunyah lalu dikumur dalam mulut dengan disertai mantera-mantera yang kemudian disemburkan kepada orang sakit. Apabila usaha tersebut tadi tidak berhasil maka baru diadakan acara Miempu. Biasanya Miempu orang sakit dengan menggunakan wadian bawo yang disebut Nyangar Maling selama dua malam. Perlengkapan Miempu pada malam pertama sesajen yang disediakan sama dengan pada waktu miempu yang sifatnya suka cita, beras yang ditaruh di Nanah, guci yang ditutup dengan piring yang berjumlah 4 (empat) buah, tombak yang diletakan dipuput wundrung atau sokoguru rumah dan sebagainya. Malam pertama dari acara Miempu orang sakit disebut malam mencari pengobatan. Sedangkan malam kedua disebut malam pengobatan. Akan tetapi sesajen yang harus disediakan pada malam kedua, ada beberapa macam kue yakni yang berjumlah 41 (empat puluh satu) macam. Wadian masuk kedalam tanah yang dibuat semcam liang kubur akan tetapi tidak begitu dalam disebut dengan Saruga. Apabila wadian masuk ke saruga, gamelan terus dimainkan tidak diperkenankan berhenti selama wadian mengadakan pengobatan yang disebut Miusat, gamelan terus dimainkan sampai wadian selesai mengadakan miusat maupun keluar dari saruga. Sudah menjadi kebiasaan pada upacara tersebut. Sebab banyak benda-benda yang dibawa oleh wadian kedalam rumah pada waktu miusat (Kasarungan atau kesurupan). Apabila waktu Miusat tadi, wadian sering membawa benda-benda yang sifatnya sudah mati, seperti daun yang sudah kering dan sebagainya berarti orang sakit tersebut bisa meninggal dunia. Apabila wadian pada waktu itanang banyak membawa benda-benda hidup, misalnya daun yang masih hidup, atau apa saja yang sifatnya masih hidup, maka orang tersebut akan sembuh dari penyakitnya. Setelah selesai acara miempu biasanya selama 3 (tiga) hari dirumah orang yang melakukan acara Miempu tersebut tidak diperkenankan menerima tamu kecuali keluarga yang ikut dalam melakukan upacara saja. Larangan masuk, tidak menerima tamu setelah kegiatan Miempu selesai disebut Tampadi Pisan. Dalam kondisi tertentu dari penyakit yang diderita pasien tersebut mungkin tidak perlu acara Miempu cukup dengan Iraharen. Iraharen ada dua macam yaitu Iraharen Manta dan Iraharen Mandru namun ada juga dengan cara Manyapir. Semua acara ini memakai sesajen juga, tetapi tidak perlu diadakan Tatabuhan, dan pelaksanaannya cukup oleh kepala rumah tangga atau famili terdekat saja.
  5. Bontang atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bontang Tamui Bukah-Lale. beberapa hari sebelum dimulai acara Bontang didirikan sebuah bangunan yang disebut Balai. Balai ini berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan yang sifatnya seremonial saja. Lamanya melakukan acara Bontang ialah 3 (tiga) hari. Hari yang pertama disebut Andrau Papaspali. Pada hari yang pertama ini, kegiatan difokuskan untuk mengelilingi semua makam keluarga dari pihak yang melakukan acara Bontang dengan membawa benda pusaka yang khusus (Ullu). Setelah mengelilingi semua makam tersebut maka Ullu tersebut diarak mengelilingi pohon yang mempunyai getah yang disebut Nuruk Nanyu (mengikat Halilintar) yang dilakukan oleh orang atau seorang penghulu yang sekaligus tempat asal benda tersebut diambil. Beberapa puluh meter dari Balai tempat meletakkan Ullu tersebut selama pesta adat itu berlangsung, sudah terdengar bunyi kenong, gendang dan gong yang bertalu-talu menyambut kedatangan orang yang membawa benda tersebut. Sebelum sampai dihalaman Balai rombongan yang membawa benda pusaka (Ullu) tersebut, disambut dengan sorak-sorai oleh anggota masyarakat serta keluarga dekat dengan disertai lemparan tombak yang disertai dengan Tarian Nampak (giring-giring) dan Tari Bahalai yang disebut Nandrik. Pada malam harinya kegiatan banyak dilakukan dihalaman rumah yang bersifat kegembiraan karena banyak orang melakukan Tarian Nampak dan berbagai jenis kegiatan yang lainnya. Didalam Balai terdapat tempat meletakkan Ullu yang diikat pada tiang bali atau sokoguru rumah beserta dengan guci, tombak dan ada juga seperti bendera yang disebut Lalayur Lalunsir. Pada hari yang kedua dari acara Bontang disebut hari Iparapah, acara ini tidak lebih dari pemberian korban yang ditujukan kepada Hiyang Piumbung Jaya Pikuluwi atas berkat yang diberikan kepada yang melakukan upacara ini. Pada acara Iparapah biasanya mengorbankan binatang sperti babi, ayam, itik dan kambing, sedangkan keluarga yang melakukan upacara ini berada dibawah tempat pemotongan binatang tersebut. Kalau sepintas kita lihat mereka tersebut mandi darah binatang yang dikorbankan. Kegunaan dari Iparapah ini adalah melunasi Nazar mereka kepada Hiyang Piumbung Jaka Pikuluwi (Tuhan Yang Maha Esa). Pada sore harinya ada lagi acara yang mengantarkan sesajen kepada Pangingtulu (dewa-dewa) yang memelihara serta melindungi mereka, pada Panungkulan yang biasanya dipohon kayu yang dianggap keramat. Pada hari yang ketiga dari acara Bontang tersebut, dinamai Andrau Baraden, lalu mengadakan dua acara yang penting yakni Baraden dan Ngugah Tuak Datu. Acara Baraden dilakukan untuk menyucikan diri dari roh-roh yang membawa malapetaka kepada pihak yang melakukan upacara ini. Pada acara ini semua keluarga duduk mengelilingi tiang balai dan seorang yang melakukan acara ini biasanya membawa dupa (semacam dapur) tempat membakar kemenyan dan kayu gaharu. Asap dari kemenyan serta gaharu yang dibakar itu dikipaskan keseluruh ruang balai dengan disertai tarian bahalai (nandrik) dan giring-giring dengan irama kenong dan gendang yang lain dari yang lainnya. Acara membuka Tuak Datu biasanya dilakukan oleh Mantir. Setelah acara membuka Tuak Dato selesai dilanjutkan dengan acara kegembiraan bahwa acara bontang dapat dilaksanakan dengan lebih baik tanpa adanya rintangan dari roh jahat. Acara bontang menggunakan wadian dusun sebagai pelaksanaan dari acara ini serta dibantu oleh beberapa orang Panganak Hiyang yang khusus membantu dalam pembuatan sesajen yang berhubungan dengan acara ini. Dalam acara bontang ada yang mengorbankan binatang kerbau, akan tetapi waktu penyelenggaraan memakan waktu 7 (tujuh) hari lamanya. Bontang yang mengorbankan kerbau tidak ada bedanya dengan bontang yang lamanya tiga malam, semua persyaratan didalam upacara tersebut tidak berbeda jauh, hanya yang membedakannya adalah lama waktu dari penyelenggaraan upacara Miya. Dalam pelaksanaan bontang ada yang disebut Wurung Balai, yang bertugas hanya sebagai penari selama berlangsungnya upacara bontang.
  6. Nguruwayu atau Kuruwayu adalah suatu upacara adat yang ada kaitannya dengan acara suka cita yang paling tinggi nilainya dalam susunannya tata cara adat dalam bidang suka cita yang dimiliki oleh anggota masyarakat Maanyan. Mengapa dikatakan paling tinggi nilainya, sebab tidak sembarang dapat dilakukan apabila belum melakukan acara bontang terlebih dahulu. Upcara Nguruwayu dilakukan oleh wadian bawo, sedangkan bontang dilakukan oleh wadian dusun. Penyebutan kata Nguruwayu banyak dipakai oleh anggota masyarakat yang berada didaerah Kampung Sepuluh serta Banua Lima dan sekitarnya. Sedangkan kata penyebutan Kuruwayu dipakai dan digunakan oleh masyarakat di daerah Paku'u Karau dan sekitarnya. Acara Nguruwayu memerlukan waktu beberapa hari lamanya untuk menyelesaikan acara ini. Sesajen dalam acara ini tidak jauh berbeda dengan sesajen pada waktu melakukan kegiatan acara Miempu yang lamanya 2 (dua) malam. Jumlah wadian yang terlibat dalam melakukan acara ini sampai berjumlah 8 orang atau lebih. Didalam melakukan acara ini tidak mempunyai balai seperti acara bontang, dan semua kegiatan dilakukan didalam rumah. Pada waktu melakukan acara ini binatan g yang dikorbankan adalah ayam, babi seperti di acara bontang. Pada acara nguruwayu biasanya ayam yang paling banyak menjadi korban baik itu dipotong maupun dioles dengan minyak sebagai ucapan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa. Dalam acara Nguruwayu tidak ada tarian Nampak dan Nandrik seperti bontang, hanya yang melakukan tarian adalah wadian yang melakukan acara itu yang disebut Ikinsai. Dalam acara Ikinsai adalah suatu acara yang diperlihatkan semua wadian yang terlibat dalam acara ini, bagaimana menari gelang bawo yang sebenarnya. Setiap hendak melakukan sesuatu terlebih dahulu diucapkan mantra-mantra yang dilakukan wadian yang terkenal dengan sebutan Nuak atau Luak Wadian. Setelah Nuak itu selesai disambut oleh pukulan kenong serta gendang dan gong yang digantung sedemikian rupa, semua alat yang dimainkan akan melahirkan nada-nada yang indah didalam mengiringi wadian yang melaksanakan acara tarian. Acara ini tidak terlepas dari ucapan terima kasih oleh pihak yang melakukan acara tersebut, kepada Hiyang Piumbung Jaka Pikuluwi atas penyertaan dan perlindungan mereka selama ini. Serta ucapan terima kasih atas berkat yang dilimpahkan kepada kehidupan mereka selam ini, sehingga mereka dapat melakukan acara ini dengan selamat sampai selesai. Dalam acara Kuruwayu lebih ramai dari bontang , sesajen lebih rumit bila dibandingkan dari pada acara lainnya serta banyak kejadian yang langka justru dilakukan oleh wadian yang mengundang rasa haru dari masyarakat. Diatas telah diutarakan upacara ini merupakan upacara yang mempunyai tata nilai yang tertinggi dalam acara yang berkaitan dengan suka cita sebab ada 5 (lima) tingkatan kegiatan yang disebut Pasawetan dengan puja aneka warna dengan pengucapan Diki Hiyang Mandru. Lama penyelenggaraan acara Nguruwayu adalah 5 (lima) malam, kegiatan pada siang harinya berfokus pada kegiatan pembuatan sesajen untuk dipakai atau digunakan pada malam harinya begitu seterusnya sampai malam yang ter akhir. Penyebutan Nguruwayu sering digunakan oleh anggota masyarakat Kampung Sepuluh dan Benua Lima, sedangkan Kuruwayu sering dipakai atau disebut oleh suku Lawangan dengan cara pelaksanaannya tidak mempunyai perbedaan yang terlalu tajam hanya beda didalam penyebutan akan tetapi hukum dan aturannya sama. Demikian juga dengan Paju Epat juga ada mengadakan adat tentang suka cita yang disebut dengan Nguruwayu.
  7. Mira Kaiyat yang dilakukan oleh masyarakat Paju Epat yang berkaitan dengan acara suka cita, dilakukan oleh wadian dusun sama dengan Isirap kepada masyarakat Kampung Sepuluh, yang bertujuan sebagai ucapan terima kasih kepada Hiyang Piumbung Jaka Pikuluwi atas penyertaaan mereka selam ini kepada keluarga yang bersangkutan. Dan bagi masyarakat Banua Lima juga ada acara suka cita akan tetapi sama dengan dilakukan oleh masyarakat kampung Sepuluh cara melakukannya. Tetapi ada perbedaan secara khusus pada Miempu menggunakan Wadian Diwa yang merupakan ciri khas dari daerah ini, dan tidak ditemukan diwilayah yang lain misalnya : Kampung Sepuluh, Pajut Epat dan Lawangan. Wadian Diwa biasanya dipakai untuk menyembuhkan orang sakit dan juga bisa dipakai atau dipergunakan untuk hal-hal yang bersifat kesenangan. Irama untuk mengiring wadian tersebut lain dari yang lainnya, nama iraman gamelan khusus bagi wadian diwa ini disebut Dalang Dangking. Biasanya yang menjadi wadian diwa adalah seorang wanita. Wadian diwa juga bisa menari (Ikinsai) akan tetapi tidak menggunakan gelang sepertilayaknya seorang waadian yang lainnya, dan perlengkapannya sama dengan wadian yang lainnya. Pada uraian yang terdahulu pernah dikatakan bahwa masyarakat Lawangan merupakan bagian yang tidak dipisahkan dari masyarakat Maanyan. Dari segi hukum adat dengan hukum adat masyarakat didaerah Kampung Sepuluh dan Banua Lima. Hanya terdapat perbedaan dari segi upacara ritual yang berkaitan dengan acara duka cita. Disamping itu juga masyarakat Lawangan mempunyai kaitan dengan masyarakat yang berada diwilayah Kalimantan Timur, secara khusus masyarakat Tonjong dan Benuaq. Kaitan dari kedua masyarakat tersebut diatas adalah dari segi bahasa maupun dari hal yang lainnya lagi mempunyai banyak kesamaan. Upacara yang dilakukan oleh masyarakat Lawangan juga dilakukan oleh masyarakat Dusun didaerah Pantai Barito, yang secar khusus masyarakat Dusun tersebut diatas tidak menjadi bahan penguraian dalam kesempatan ini. Upacara yang dimiliki oleh masyarakat Lawangan dalam kaitannya acara ritual yakni Upacara yang berhubungan dengan suka cita dan berkaitan dengan acara ritual duka cita. Kedua acara tersebut ada kaitannya dengan yang dimiliki oleh masyarakat didaerah Kampung Sepuluh dan sekitarnya. Upacara yang ada kesamaannya tersebut adalah dalam kaitannya dengan acara suka cita, sedang yang acara duka cita terdapat perbedaan. Akan tetapi dari segi penyebutan atau peristilahan juga mengalami hal yang sam. Hal yang demikian itu tidak menjadi persoalan karena kesemuanya memuji kepada Hiyang Piumbung jaka Pikuluwi. Upacara ritual yang berkaitan dengan acara duka cita yang dimiliki oleh masyarakat Lawangan berbeda jauh dengan upacara ritual masyarakat lainnya. Hal ini disebabkan kepercayaan yang mereka imani memberikan ajaran yang mengatakan bahwa setiap orang yang meninggal dunia, pasti masuk Lumut Toro Tuntong walau dengan acara ritual yang paling sederhana mungkin. Hal yang demikian itu tidak terdapat dikalangan anggota masyarakat lainnya. Kita ambil contoh adalah upacara Miya yang dimiliki oleh masyarakat didaerah Kampung Sepuluh yang mengatakan bahwa setiap orang yang meninggal dunia tidak sampai ke Dato Tonyong Gahamari kalau tidak melalui upacara Miya atau Ngadaton. Sedangkan acara atau tingkatan Pankan Hanrueh Ngikap Tim'muk atau Pakan Tulakan, roh yang meninggal tersebut tidak masuk ke Dato Tonyong Gahamari. Hal inilah yang merupakan perbedaan yang dimiliki oleh masyarakat tersebut diatas.
Dalam kesempatan ini kita akan membicarakan upacara ritual yang dimiliki oleh anggota masyarakat Lawangan secara umum sifatnya.
Bagi masyarakat Lawangan bahwa upacara ritual yang berkaitan dengan duka cita mutlak untuk dilakukan agar roh orang yang telah meninggal tersebut dapat masuk Lumut Toro Tontong (Nirwana/Sorga). Menurut pemahaman anggota masyarakat Lawangan, orang yang meninggal tersebut dianggap oleh mereka adalah hanya memisahkan diri dari dunia ini sehingga rohnya dapat masuk kedunia yang lebih langgeng dan sempurna dari yang ada sekarang.
Bila anggota keluarga dalam sebuah rumah tangga ada yang meninggal dunia maka dilihat apa profesinya selama ia masih hidup. Apabila profesinya sebagai wadian, kita ambil contoh maka segal peralatan sebagai seorang wadian dipasang pada mayat tersebut dan lalu didudukan pada sebuah gong. Sebagai tanda bahwa ada keluarga yang meninggal dunia, lalu dibunyikan gong selama tiga kali, yang pertama dibunyikan kearah matahari terbit. Kemudian dilanjutkan kearah matahari terbenam. Menghadap kedua arah mata angin tersebut membuktikan adanya kelahiran dan kematian didalam kehidupan manusia yang berada di dalam dunia ini.
Setelah mayat tersebut didudkan pada sebuah gong untuk beberapa saat, maka dimasukan kedalam peti mati yang biasanya terbuat dari pohon kayu durian atau Kalangkala. Bentuk peti mati tersebut juga ada perbedaan bagi seorang laki-laki dan bagi seorang perempuan.
Untuk peti mati laki-laki, dibagian ujungnya dari peti mati tersebut agak lancip. Sedangkan untuk yang perempuan tidak terdapat seperti peti mati laki-laki. Setelah mayat dimasukkan kedalam peti mati (Rarung, Tabala), sebagai dasar peti mati tersebut adalah 3 (tiga) potong batang pisang.
Upacara ritual yang dimiliki oleh masyarakat Lawangan, dalam kaitannya dengan acara duka cita ini hanya ada 1 (satu) jenis upacara ritual, yakni apa yang disebut dengan istilah Wara. Upacara ritual wara tersebut terbagi lagi didalam beberapa tingkatan. Tingkat upacara tersebut disesuaikan dengan kemampuan anggota keluarga yang tengah mengalami kedukaan tersebut.
Biasanya upacara ritual yang dilakukan oleh maasyarakat Lawangan adalah mayat yang masih belum dikebumikan. Mayat bisa dikebumikan bila upacara telah selesai. Jenis upacara ritual yang dilakukan oleh anggota masyarakat disesuaikan dengan tingkat perekonomian orang yang tengah mengalami duka cita. Upacara ritual yang paling sederhana sifatnya adalah Wara 1 (satu) malam yang disebut dengan istilah Taruyang.
Dalam upacara ritual yang memakan waktu 1 (satu) malam ini menggunakan seekor ayam, babi dan kambing yang harus dipotong, sebagai sesajen yang harus disediakan. Demikian juga dalam acara ini juga diwajibkan adanya seorang wadian wara sangat menentukan sekali dalam acara ini. Sesajen tidak begitu banyak dan rumit kalau kita banding dengan sesajen yang diperlukan pada acara Miya bagi masyarakat Kampung Sepuluh dan sekitarnya.
PElayan yang mempersiapkan segala sesuatu sesajen untuk kepentingan upacara ritual wara tersebut disebut Pangadik Wara. Kalau pelayan tersebut pada upacara Miya disebut Pisam'be. Wadian wara tidak memakai Luwuk Pitutui (pisau) sebagai petunjuk jalan bagi roh orang yang meninggal dunia tersebut sampai ke tempat yang ditentukan. Sebagai pengganti Luwuk Pitutui tersebut ada istilah dalam wara yang disebut Ngatet Adiau yakni Wadian Wara memasuki sebuah perahu, sehingga didayung dengan menggunakan lemang (Pisake) dengan disertai mantera (Huyongan)dengan demikian orang atau roh yang meninggal itu sampai Lumut Toro Tontong tempat adiau bagi masyarakat Lawangan.
Dalam acara wara yang lebih tinggi tingkatan dari Taruyang adalah wara yang memakan waktu sampai dengan 5 (lima) hari, 7 (tujuh) hari dan wara yang memakan waktu 9 (sembilan) hari. Sedangkan pengertian wara 5 (lima) hari dan seterusnya adalah 3 (tiga) hari Mandre Bangkai serta 2 (dua) hari acara wara. Demikian juga dengan pengertian wara 7 (tujuh) hari maupun yang 9 (sembilan) hari.
Untuk upacara wara 5 (lima) hari diwajibkan mengorbankan kambing, babi serta ayam. Demikian juga dengan perlengkapan yang lainnya sama dengan wara yang 1 (satu) malam.
Akan tetapi wara yang lamanya 7 atau 9 (tujuh atau sembilan) hari diwajibkan untuk mengorbankan seekor kerbau dan binatang lainnya.
Tata aturan dalam upacara ritual waranya adalah sebagai berikut :
  • Pada hari ke-3 dari mandre Bangkai, langsung dilakukan kegiatan upacara ritual yang disebut dengan Wara.
  • Pada hari mempersiapkan segala kegiatan yang berkaitan upacara wara dengan menyediakan hal yang berkaitan pada upacara tersebut.
  • Hari yang ke-4 dalam upacara disebut Andrau Ngarapak. Pada acara tersebut biasanya ditandai oleh pelaksanaan adu ayam jago pada arena yang telah disediakan pada hari yang ke-3. Sedangkan pada malam harinya diadakan acara Tarung Nyunang seperti pada acara Miya didaerah Kampung Sepuluh dan sekitarnya. Dalam acara ini didahului dengan acara minum tuak yang kadar alkoholnya rendah. sebelum tuak tersebut dipersilakan untuk diminum oleh semua anggota yang hadir terlebih dahulu diadakan acara Enteng Sunang yang harus didahului oleh pembawa acara yang disebut Anak Tanggayungan. Pembawa acara ini mengajak semua yang hadir untuk minum tuak tersebut yang didahului dengan kata-kata yang pada intinya meminta dengan hormat untuk minum tuak tersebut. Permintaan tersebut sebagai bukti atau tanda rasa hormat dari yang melakukan acara wara kepada para tamu yang hadir. Kata-kata yang diutarakan oleh Anak Tanggayungan tersebut biasanya menggunakan bahasa satra yang tinggi nilainya.
  • Pada hari ke-5 ada yang disebut Andrau Mansar. Hari yang terakhir dari rangkaian wara ang membutuhkan waktu selam 5 (lima) hari, pada hari itu bila kita kaitkan dengan acara miya adalah Andrau Nantak Syukur. Setelah acara Andrau Mansar ini selesai kemudian dilanjutkan dengan upacara penguburan mayat. Terhitung setelah acara ini, maka pada tiap tahunnya diadakan Ngatek Panuk. Dalam hal ini adalah memberikan sesajen kepada roh yang meninggal tersebut. Karena menurut kepercayaan masyarakat Lawangan selama tiga tahun roh yang meninggal itu masih bisa kembali kerumah keluarganya, maka selama 3 (tiga) tahun berturut-turut diadakan acara pemberian sesajen ke makam orang meninggal tersebut. Setelah tiga tahun semenjak acara wara selesai, roh orang tersebut tidak dapat kembali lagi seperti tiga tahun sebelumnya.
setelah beberapa tahun setelah acara Nguang Panuk (Ngatet Kalangkang) selesai, maka diadakan acara membongkar makam tersebut serta mengambil tulang-belulang untuk disimpan pada sebuah guci yang besar yang disebut Taluh. Pada bagian rangka badan dimasukan kedalam Taluh sedangkan tengkorak kepala dimasukan kedalam Tabala atau Kariring.
Tengkorang yang dapat dimasukan Tabala atau Kariring biasanya yang telah melakukan upacara ritual wara selama 7 (tujuh) dan 9 (sembilan) hari lamanya. Wara yang memakan waktu 5 (lima) hari dapat masuk Tabala dengan syarat melakukan kewajiban mengorbankan kerbau. Sedangkan yang melakukannya selama 7 (tujuh) hari bisa langsung masuk Tabala dan yang melakukannya selama 9 (sembilan) hari juga boleh langsung masuk Kariring.
Bentuk Tabala serta Kariring adalah pada bagian atas tempat menyimpan tengkorang kepala berbentuk naga dengan dihiasi ukiran yang sangat indah sekali. Perbedaan Tabala dengan Kariring yakni Tabala mempunyai tiang dua buah sedangkan Kariring mempunyai tiang satu buah. Taluh biasanya sebagai tempat menyimpan tulang atau rangka badan, sedangkan Tabala dengan Kariring biasanya tempat menyimpan tengkorak kepala setelah dilakukan pembokaran darai makam asalnya. Pada saat memasukan tengkorak kedalam Tabala maupun Kariring diharuskan membunuh seekor babi sebagai sesajennya. Dalam acara memasukan tengkorang kepala kedalam Tabala atau Kariring tidak menggunakan wadian. Nilai kesempurnaan yang diperoleh roh orang meninggal tersebut menurut kepercayaan masyarakat Lawangan setelah upacara wara adalah apabila beberapa tahun kemudian tengkorak kepala dimasukan kedalam Kariring. Apabila tengkorang kepala dapat masuk Kariring sempurnalah seluruh upacara ritual bagi masyarakat Lawangan, yang berkaitan dengan acara duka cita.
Apabila tengkorak kepala dari keluarga yang bersangkutan dapat masuk Kariring maka prestise keluarga menjadi baik dihadapan anggota lainnya.
Upacara wara tidak hanya dilakukan oleh masyarakat didaerah kecamatan Dusun Tengah melainkan juga dilakukan oleh masyarakat daerah Kotam, Bon'nai yang menamakan diri mereka dengan sebutan Dusun Daeh. Dari segi upacara kepercayaan masyarakat tersebut diatas mempunyai kesamaan dengan anggota masyarakat didaerah Ampah yang terletak sebelah utara dari kota Tamianglayang sekarang ini.

Adat Perkawinan Orang Maanyan

Menurut kepercayaan orang Maanyan merupakan suatu keharusan apabila usianya sudah memenuhi persyaratan untuk membina sebuah rumah tangga. Dan jenis perkawinan yang ada adalah sebagai berikut :
  1. Adu Pamupuh, perkawinan yang dilakukan oleh orang tua dari kedua belah pihak yang merestui hubungan pasangan tersebut yang disaksikan oleh Mantir serta Pangulu, akan tetapi tidak diperbolehkan kumpul sebagai suami istri. Hal ini tidak lain dari pada pertunangan, sedangkan upacara perkawinan yang sebenarnya masih mempunyai tenggang waktu yang telah disepakati bersama-sama dari kedua belah pihak.
  2. Adu Ijari, perkawinan yang dilakukan oleh dua sejoli, yang melarikan diri serta minta dikawinkan kepada wali dari salah satu pihak dari calon mempelai, serta tidak kepada orang tua sendiri. Biasanya pasangan yang Ijari itu menyerahkan bukti berupa cincin, kalung dan sebagainya bahwa mereka ingin dikawinkan. Perkawinan Ijari berasal dari kata jadi atau lari. Dalam perkawinan ini terjadi ketidakcocokan diantara orang tua tapi kedua sejoli tersebut harus dikawinkan.
  3. Adu Pangu'l, Perkawinan yang direstui oleh kedua belah pihak dari pasangan kedua mempelai. Perkawinan ini dilakukan pada malam hari dengan disaksikan oleh Mantir Epat dan Pangulu Isa beserta dengan wali dari kedua belah pihak.
  4. Adu Gapit Matei Mano, Ayam yang dipotong ialah dari jenis jantan sebanyak dua ekor. Kedua mempelai duduk diatas 9 buah gong diapit oleh 4 wanita dan 3 pria. Biasanya mereka yang mengapit itu adalah saudara dekat dari kedua mempelai yaitu sepupu sekali. Perkawinan itu disyahkan dengan memercikkan darah ayam dengan daun bayam istambul dan daun kammat, kepada pakaian kedua mempelai. Turus Tajak, atau sumbangan dari para hadirin diberikan pada waktu itu kepada kedua mempelai. Disamping Turus Tajak ada jugahadirin yang memberikan sumbangan berikut melalui petuah akan kegunaan sumbangan tadi kepada kedua mempelai. Petuah yang diberikan itu maksudnya membina rumah tangga yang baik disebut Wawaling. Pada acara perkawinan ini tanpa diakan wadian.
  5. Adu Gapit Matei Iwek, Pada acara perkawinan ini sama dengan "Adu Gapit Matei Mano", tetapi binatang korban bukan lagi ayam jantan, melainkan diganti dengan babi atau iwek.
  6. Adu Gapit Manru Matei Iwek, pada acara perkawinan ini, kedua mempelai sama duduk diatas 9 buah gong, diapit oleh 4 wanita dan 3 pria, ditambah dengan Wadian Bawo. Perkawinan ini adalah sebuah perkawinan yang tinggi nilainya, dalam susunan perkawinan di daerah Kerajaan Nansarunai. Perkawinan ini disertai oleh hukum adat yang harus dituruti oleh kedua mempelai.
Ketentuan hukum adat itu adalah :
  1. Hukum Kabanaran 12 rial
  2. Hukum Pinangkahan, artinya ialah kedua mempelai harus membayar denda perkawinan bilamana wanita menikah lebih dahulu dari kakaknya.
  3. Hukum adat, harus memberikan hadiah kepada pihak kakak atau nenek mempelai wanita, bilamana yang bersangkutan masih mempunyai kakek atau nenek yang masih hidup.
  4. Pihak mempelai pria harus mengeluarkan pakaian lengkap kepada mempelai wanita.
Acara perkawinan ini dilengkapi dengan namuan gunung perak, yaitu sebagai pelengkap wadian bawo. Lama perkawinan ini adalah 2 hari, 2 malam.
Pada acara perkawinan ini ada upacara yang dinamakan Nyamm'a Wurung Ju'e. Hal ini sebenarnya mencari kedua mempelai dari antara para hadirin untuk dipersandingkan diatas gong yang telah disediakan.
Acara Nyamm'a Wurung Ju'e bila yang dicari mempelai wanita maka disebut "Mintan Wurung Ju'e", sedangkan untuk mencari mempelai pria disebut "Mulut Wurung Ju'e". Acara mencari kedua mempelai ini disaksikan oleh Mantir dan Pangulu, setelah kedua mempelai yang sebenarnya ditemukan oleh wadian mereka lalu disuruh duduk diatas gong yang diapit oleh 4 wanita dan 3 pria. Peristiwa itu disaksikan mantir dan pangulu serta para kaum kerabat dan hadirin yang hadir.
catatan :
Real adalah mata uang bangsa Arab, yang dipakai sebagai alat jual beli ketika orang Maanyan berdagang dari Kalimantan Selatan hingga ke Madagaskar dari abad ke-10 sampai abad ke-14.
Mantir dan Pangulu memercikkan atau mamalas darah babi kepada kedua mempelai, beserta memberi wawaling dan hadirin memberi Turus Tajak.
Wawaling dan Turus Tajak diberikan sebagai langkah awal kedua mempelai membina rumah tangga yang baik dan sempurna untuk kemudian hari.
Dalam perkawainan Adut Gapit Manru Matei Iwek ini ada acara yang dinamakan "Pagar Tonnyo'ng" yaitu didepan pintu pagar rumah calon mempelai wanita, keluarga dari calon mempelai pria mengucapkan syair-syair semcam puji-pujian yang disambut oleh pihak keluarga calon mempelai wanita dengan penuh penghargaan yang tulus atas kedatangan keluarga calon mempelai pria. Keluarga calon mempelai pria membawa hantaran berupa, lemang yang dibawa oleh orang membawa tombak. Batang-batang lemang ditaruh didalam kantongan dibelakang pemegang tombak.

Sabtu, 21 Agustus 2010

Illah-Illah Orang Maanyan

Orang Maanyan mempunyai beberapa Illah yang dianggap mempunyai kekuatan gaib serta menjadi tempat pemujaan oleh anggota masyarakat secara pribadi maupun secara umum antara lain :
a. Illah yang berkuasa diudara yang mereka sebut Nanyu.
b. Illah yang berkuasa didalam air yang mereka sebut Diwata atau Wayu.
c. Illah yang berkuasa didalam rimba raya yang mereka sebut Kari'au.
d. Illah milik keluarga yang terdapat didalam rumah yang mereka sebut Pangintuhu.
e. Illah yang berada dipohon kayu besar berupa milik keluarga atau milik desa yang mereka sebut Panungkulan.
f. Illah yang menjaga desa yang mereka sebut Paket.
g. dan beberapa Illah lainnya baik milik pribadi maupun yang tidak dipunyai orang lain atau desa lain.
Illah-illah yang disebut diatas, merupakan sesuatu yang mereka yakini serta yang dapat menolong mereka untuk memberikan kekuatan dan kehidupan dalam mengerjakan berbagai kegiatan sehari-hari.
Dengan percaya kepada banyak illah, maka dengan mudah memperoleh rejeki yang diinginkan baik secara pribadi maupun secara kelompok masyarakat. Semua kesejahteraan yang diperoleh anggota masyarakat adalah berdasarkan pemberian illa-illah itu, yang mereka yakini dan imani. Persembahan yang diberikan kepada illah-illah tersebut dilakukan oleh mediator yang disebut Wadian. Untuk memberikan sesajen sebagai persembahan kepada illah-illah itu ada beberpa jenis kegiatan yang dilakukan. Upacara adat yang paling sederhana sifatnya ialah memberi sesajen kepada Kari'au yang disebut Miwit Allah Jumpun. Acara ini hanya dilakukan oleh masyarakat biasa bukan oleh seorang Wadian. Orang yang membawa persembahan itu harus dapat mengucapkan mantera-mantera tertentu disertai perlengkapan sesajen yang paling sederhana, berupa telur, kue-kue daging ayam yang dipanggang atau direbus dengan santan. Semua persembahan itu ditaruh didalam anyaman bambu berbentuk segi empat yang mereka namakan Ansyak.

catatan : penyajian persembahan seperti ini hampir sama dengan kebudayaan suku Bajo yang ada di pulau Bungin utara pulau Sumbawa, karena suku Maanyan pernah menjadi pelaut ulung dizaman dahulu makanya dalam masyarakat Maanyan ada yang disebut dengan Bilangan Bajau.

Ansyak itu digantung pada pohon kayu besar yang disebut Panungkulan serta diikuti dengan mantera-mantera yang disebut dengan Wadian Miwit Allah Jumpun.
Persembahan itu dilakukan oleh salah seorang anggota keluarga dan biasanya kepala rumah tanggalah yang menyelenggarakan acara itu.
Upacara adat yang bersifat sempurna, biasanya memakan waktu dua malam, yang disebut Mi'empu. Dalam acara Mi'empu diadakan juga kegiatan yang dinamakan Itangai, biasanya diselenggarakan oleh Wadian Dusun. Acara Itangai ini tidak lain daripada memberi sesajen kepada Illah yang selama ini menolong keluarga yang bersangkutan dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
Kemungkinan ada dari illah yang diyakini oleh orang Maanyan itu berlatar belakang kepercayaan agama Hindu, misalnya Illha Diwata atau Dewata, berasal dari kata Dewa.
Illah lain milik keluarga atau golongan yang tidak terdapat disebagian besar desa-desa orang Maanyan misalnya :
- Nanyu Sangar Jatang dan Kakani-Maleh milik desa Ja'ar.
- Nanyu Abeh milik desa Dayu.
- Nanyu Nan-Rueh milik desa Telang atau golongan Paju Epat.
- Nanyu Jangkung milik golongan masyarakat Banua Lima.
Dari beberapa illah yang telah disebut diatas, tentunya illah mana yang paling besar kuasanya. Untuk memberikan keterangan yang lebih jelas mengenai illah mana yang paling besar kuasanya adalah sangat sulit dipastikan. Hal ini semakin rumit lagi dengan timbul sebutan Hiyang Piumbung Jaya Pikuluwi, yakni semacam illah yang menguasai jagad raya didalam semesta ini. Akan tetapi dapat diambil patokan pendapat seorang Demang Banua Lima yaitu Bapak Lendup yang mengatakan bahwa illah yang dimiliki orang Maanyan adalah Hiyang Piumbung Jaya Pikuluwi yang artinya tidak kurang dari pada Tuhan Yang Maha Esa (Allah Bapa di sorga didalam agama Kristen). Hiyang Piumbung Jaya Pikuluwi inilah yang merupakan illah yang tertinggi bagi orang Maanyan. Sedangkan illah-illah lainnya itu hanya pendukung masyarakat yang berkaitan dengan kegiatan atau kejadian yang menimpa anggota masyarakat pada saat tertentu. Hiyang Piumbung Jaya Pikuluwi merupakan illah yang dipercayai oleh mereka, yang dapat mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan kekuasaan serta pemberian rejeki, semua kegiatan dunia dan akhirat. Segalanya dipegang dan diatur oelh Hiyang Piumbung Jaya Pikuluwi semata-mata.
Kepercayaan akan adanya Hiyang Piumbung Jaya Pikuluwi, sesuai dengan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka dari dahulu hingga sekarang. Upacara yang sering diselenggarakan oelh anggota masyarakat, sebagimana yang diuraikan diatas, merupakan ibadat yang bertujuan memohon kepada Yang Maha Esa atas bimbingan, perlindungan serta kekuatan kehidupan mereka.

Orang Maanyan beranggapan semua yang mereka miliki berasal dari pemberian Tuhan Yang Maha Esa, serta wajib juga mereka mengucapkan syukur dan berterima kasih dengan bentuk suatu upacara adat.
Akan tetapi kepercayaan mereka hanya terbatas kepada lingkungan masyarakat mereka sendiri, serta merekapun masih mentaati kepada nenek moyang mereka yang telah memberikan kepercayaan itu. Cara sudut pandang mereka terhadap kepercayaan, hukum serta kemasyarakatan dan lain sebagainya, terlihat dari tradisi yang mereka miliki.
Pandangan tentang kepercayaan memang sudah ada, tetapi untuk lingkungan mereka sendiri, jadi tidak menjadi kepercayaan yang bersifat universal. Pemahaman tentang kepercayaan sifatnya terlalu sentris, akan tetapi dengan demikian mereka mendapat keseimbangan yang serasi antara kepercayaan dengan kesejahteraan yang mereka miliki.
Larangan yang bertentangan dengan kepercayaan yang mereka yakini jelas tidak pernah dilakukan atau disebut Padie. Apabila ada yang melanggat larangan didalam kepercayaan mereka, maka akan mendatangkan malapetaka bagi keluarga atau masyarakat lainnya.
Hal ini memperlihatkan kekurangan nilai etika didalam pergaulan dengansesama anggota masyarakat yang ada, sehingga menimbulkan terisolirnya mereka yang melakukan pelanggaran itu. Untuk mengembalikan orang yang telah melakukan pelanggaran itu kedalam pergaulan masyarakat, maka ia harus membayar denda yang disebut bayar hukum adat. Pembayaran mana yang harus disaksikan oleh para Mantir dan sesepuh desa seerta Demang selaku kepala adat dan disaksikan olaeh anggota masyarakat lainnya. Orang-orang inilah yang menyaksikan bahwa sipelanggar etika itu benar telah membayar ketentuan hukum adat yang berlakudimana ia sendiri bertempat tinggal. Setelah membayar hukum adat sesuai dengan ketetntuan yang berlaku, maka orang tersebut dapat lagi diterima kedalam pergaulan sesaama anggota masyarakat sebagaimana biasanya. Hukuman pembayaran denda yang dijatuhkan kepada setiap pelanggar etika dalam masyarakat, secar tidak langsung mempersempit kesempata perbuatan pelanggaran lainnya.
Kerasnya ketentuan yang berlaku tidak berarti menghambat kemajuan yang ingin dicapai oleh anggota masyarakat secara umum. Peraturan membayar hukum adat yang dilakukan oleh anggota masyarakat dilandasi sikap mental yang dapat menjadi dasar kemajuan yang mereka capai. Apabila kemajuan yang diperoleh tidak dilandasi sikap mental yang sudah siap untuk menerima perubahan, maka akan melahirkan jiwa yang kurang bertanggung jawab terhadap perkembangan mereka selanjutnya.
Perkembangan yang diperoleh orang Maanyan dalam pendidikan serta informasi, tidak membuat ketaatan kepada tradisi menjadi luntur. Kemajuan yang mereka rasakan tidak membuat anggota masyarakat menjadi amoral yang sangat merugikan perkembangan masyarkat.
Alam kebudayan yang tradisional dilanda oleh nilai-nilai baru dan asing bagi kehidupan mereka, tidak akan merubah pola hidup mereka, apabila kepastian hukum yang disertai tindakan preventif masih dilakukan oleh segenap lapisan masyarakat. Kepastian hukum perlu untuk melahirkan generasi yang memiliki moral yang dapat melanjutkan kebudayaan yang luhur, yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka.
Oleh sebab itu ketaatan kepada nilai-nilai yang ada ditengah masyarakat, perlu ditegaskan agar melahirkan sikap mental yang bertanggung jawab terhadap pembangunan sosial dengan segal aktivitasnya.
Semua yang diperoleh sert dasar yang kuat dan kepastian hukum yang teguh dengan menghormati kepada Hiyang Piumbung Jaya Pikuluwi. Masyarakat diharapkan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang menjadi larangan oleh Hiyang tersebut.
Sekalipun adanya kemajuan yang diperoleh sehingga dapat memperbaiki nilai kehidupan secara pribadi maupun secara kelompok. Kemajuan pembangun sekarang ini mengandung makna lain, yakni meningkatkan kwalitas kehidupan anggota masyarakat secara menyeluruh.





Kepercayaan Orang Maanyan

Banyak orang luar sering mengatakan, bahwa kepercayaan suku-suku asli di Kalimantan secara umum adalah Animisme, magis religius, spiritisme dan lain sebagainya. Secara khusus terdapat di wilayah Kalimantan Tengah ada lagi sebutan dengan istilah Kaharingan. Sebutan diatas ditujukan kepada anggota masyarakat yang belum memeluk agama seperti Islam, Kristen, Katholik, Budha dan lainnya.
Semua yang diuraikan diatas tadi hanya praduga yang belum jelas kebenarannya, akan tetapi semua istilah tadi merupakan katalisasi sebutan kepada anggota masyrakat yang belum memeluk salah satu dari agama-agama yang disebut diatas. Secara umum orang Maanyan belum percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, seperti kepercayaan agama-agama lainnya, yang bersifat monotisme. Orang Maanyan memiliki roh-roh yang mempunyai kekuatan menghidupkan. Roh-roh tersebut dikaitkan kepada benda-benda yang mempunyai kekuatan untuk memberikan penghidupan kepada mereka. Roh-roh yang biasa mereka sembah itu terdapat dibeberapa tempat, ada yang tinggal di pohon kayu yang disebut dengan Illah Panungkulan dan yang didalam rumah disebut Pangintuhu. Roh-roh itu bisa dari roh para leluhur yang kembali ke dunia atas ijin Yang Maha Kuasa, atau roh lainnya yang semuanya datang dari mimpi. Baik roh yang ada didalam rumah yang disebut Pangintuhu maupun roh yang ada dipohon kayu yang disebut Illah Panungkulan dapat memberi kekuatan serta rejeki kepada mereka. Roh-roh yang mereka yakini itu biasanya diberi sesajen dengan istilah Miwit-Allah. Upacara memberi sesajen kepada Illah-Illah itu biasanya dilakukan dengan mempergunakan seorang Wadian Dadas, Wadian Diwa dan Wadian Dusun. Adapun sesajen yang disajikan itu biasanya dari daging hewan korban yang dipanggang serta darahnya yang masih segar, nasi yang dimasak didalam bambu dan nasi ketupat, ditambah beberpa kue-kue . Sesajen itu merupakan terima kasih mereka atas bimbingan serta perlindungan yang dilakukan selama ini. Apa yang diuraikan diatas tadi merupakan bagian terkecil dari kepercayaan orang Maanyan dalam memberikan sesajen kepada roh-roh pelindung mereka yang dinamakan Hiyang Piumbung Jaya Pikuluwi.
Dalam uraian selanjutnya akan dijelaskan kemana roh-roh orang yang telah meninggal itu berada sesudah diadakan upacara adat maupun yang belum menurut kepercayaan orang Maanyan. Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka menurut kepercayaan mereka rohnya harus diadakan upacara adat kematian agar roh tersebut dapat masuk ke Dato Tonnyo'ng Gahamari atau sorga loka. Upacara adat kematian itu diadakan untuk mengantar roh tadi sampai ditempat yang dituju yaitu Watang Wato Langkok yang dijaga oleh nenek tua yang mereka sebut Itak Barungkaian Munte.
Nenek tua inilah yang menentukan tempat para roh orang yang telah meninggal itu, sesuai dengan tingkat upacara adat kematian yang telah diadakan oleh keluarganya. Apabila roh orang yang telah meninggal itu diadakan upacara kematian dengan tingkat yang tinggi dan lengkap, maka rohnya akan mendapat tempat yang baik di Dato Tonyo'ng Gahamari, yaitu ditengah-tengah pusat keramain denagn tirai yang bertaburan emas permata. Untuk upacara kematian yang tingkatnya lebih rendah maka rohnya akan berada diluar dari pusat keramaian tadi. Oleh sebab itu setiap orang Maanyan yang telah meninggal dunia terutama kalau yang bersangkutan dari kalangan orang yang berkedudukan di masyarakat, maka seluruh kerabatnya atau kaum keluarganya berusaha agar rohnya dapat diadakan upacara dengan tingkat yang tinggi. Kalau tidak diadakan upacara adat, maka roh orang yang telah meninggal itu belum sampai ketempat yang dijanjikan, sehingga setiap keluarga Maanyan berusaha mengadakan upacara kematian sekalipun dalam tingkat yang paling rendah, misalnya Pakan Tulakan.
Sedangkan upacara kematian yang paling tinggi dan lengkap ialah Ngadaton. Untuk membimbing roh orang yang telah meninggal itu untuk sampai ditempat yang telah dijanjikan memerlukan Diki-Hoyong atau mantera-mantera yang dibawa oleh seorang Wadian-Matei. Cara Wadian-Matei membimbing roh itu, ialah dengan memegang sejenis pisau yang diberi lukisan putih dari kapur sirih, berbentuk kelokan dari pangkal kepala hingga keujung pisau dikedua sisinya, yang disebut Luwuk-Pitutui. Roh-roh orang yang telah meninggal dalam masyarakat Maanyan disebut Adi'au. Dan Adi'au inilah yang harus dibimbing oleh Wadian-Matei untuk sampai ke Dato Tonyo'ng Gahamari. Orang Maanyan tidak mengenal ada tempat lain setelah kematian, kecuali Dato Tonyo'ng Gahamari, istilah neraka atau tempat yang kurang sempurna tidak dikenal. Walaupun dosa yang diperbuatnya didunia sangat besar, namun rohnya dapat masuk ke tempat yang suci itu, asal diadakan upacara adat kematian yang sempurna serta lengkap. Karena dosa didunia sudah dibayar dengan hukum dunia yang disebut hukum adat Tiba-Welom. kadang-kadang pembayaran hukum adat Tiba-Welom itu belum cukup dipandang oleh Hiyang-Piumbung Jaya Pikuluwi, sehingga ketika rohnya diantar oleh Wadian-Matei lewat mantera-manteranya banyak yang salah pengucapannya. Kalau terjadi hal yang demikian maka Wadian-matei tadi harus menabur beras kuning dang mengulangi pengucapan-pengucapan matera-manteranya sampai benar. Beras kuning dianggap oleh roh orang yang sudah meninggal
atau Adi'au adalah butiran-butiran emas. Sesajen yang lengkap serta penaburan beras kuning ketika pengucapan mantera-manteran oleh Wadian-Matei tadi akan mengampuni segala dosa-dosa yang telah diperbuatnya didunia.
Kegiatan upacara yang diuraikan diatas, tidak hanya dilakukan oleh orang Maanyan yang berada di Kampung Sapuluh, Paju Epat dan Banua Lima tetapi juga diadakn oleh orang Lawangan dan orang Dusun Deah dan suku-suku lainnya yang masih percaya kepada roh nenek moyang, dari dulu hingga sekarang. Perbedaanya terletak pada tempat roh-roh atau Adi'au tiu berada. Bagi golongan masyarakat Kampung Sapuluh dan Banua Lima dinamakan Dato Tonyo'ng Gahamari, bagi golongan masyarakat Paju Epat dinamakan Lewu Amas, bagi orang Lawangan dan Dusun Deah dinamakan Lumut Toro Tontong sebagai tempat yang suci bagi roh yang telah meninggal dunia. Kalau dilihat secara tidak langsung penghidupan dan kehidupan orang-orang Maanyan secara umum, mereka diliputi oleh kegiatan yang berupa upacara keagamaan yang mesti mereka lakukan untuk mendapat kekuatan dan rejeki, sebagai penunjang kehidupan mereka. Upacara adat mereka lakukan dengan penuh rasa tanggung jawab, serta dilakukan dengan segala ketulusan hati, karena hal ini merupakan tradisi yang menjadi kebudayaan mereka. Maka tidak mengherankan kalau dikalangan orang Maanyan banyak dijumpai tempat-tempat yang suci dan keramat, yang dianggap memiliki kekuatan gaib serta menjadi tempat pemujaan oleh mereka baik secara umum maupun pribadi. Gejala yang diutarakan diatas nerupakan gejala herofani yang dialami oleh masyarakat Maanyan. Hal itu merupakan kepercayaan yang dialami oleh mereka yang masih percaya kepada kekuatan gaib serta tempat-tempat sakral.
Hal demikian merupakan cara yang primitif kalau dilihat dari segi agama-agama yang dianut oleh masyarakat maju sekarang. Adanya sesuatu yang dapat diperoleh setelah adanya kematian yang berupa kemenangan yang sempurna ditempat yang paling suci menurut anggapan mereka yang masih bertahan dengan kepercayaan lama.


Jumat, 20 Agustus 2010

Bintang-bintang yang menjadi pedoman hidup orang Maanyan

Bintang-bintang yang menjadi pedoman hidup orang Maanyan

1. Bintang-bintang yang dijadikan pedoman pelayaran
Selain matahari dan bulan, orang Maanyan kuno juga mempergunakan bintang-bintang sebagai pedoman dilautan. Adapun nama-nama bintang yang dijadikan pedoman dilautan adalah sebagai berikut :

a. Bintang Salib-Selatan atau Krux yang mereka namakan Lewu-Magariwai atau Kaliangan-Nabe, selalu menunjukan arah selatan, bilamana garis diagonal terjauh dari titik bintang bagian atas dan bawah dihubungkan.

b. Dua buah bintang dari tiga buah bintang yang paling terang pada Big-Dipper didalam konstelasi Ursa-Major yang mereka namakan Awahat, selalu menunjukan arah utara bilamana titik bintang Beta yang berada dibagian atas, dihubungjan ke titik bintang ALfa yang berada dibawahnya.

c. Bintang-bintang dari sebagian konstelasi Orion yang mereka namakan Owoi-Posi-Nalau atau Owoi-Posi-Magariwai, Taurus atau Sungkang-Eha dan Pleades atau Ulet-Wadi, menunjukan arah timur, bilamana Orion berada dikaki langit Taurus ditengah dan Pleades dibagian atas kepala atau puncak langit.
Demikian pula sebaliknya, akan menunjukan arah barat, bilamana Pleades mendekati kaki langit, Taurus ditengah dan Orion berada paling atas.

d. Konstelasi Aquila, Sagitta dan Lira yang mereka namakan Dada-Awahat, Tadi-Puhet-Awahat dan Puhet-Awahat, menunjukan arah timur, bilamana Aquila berada dikaki langit, Sagitta dan Lira sedikit berada dibawahnya.
Demikian pula sebaliknya akan menunjukan arah barat, bilamana Lira berada dikaki langit, Sagitta ditengah dan Aquila berada diatasnya.

e. Planet Venus ketika berada ditimur, menunjukan arah timur atau dinamakan bintang-timur yang mereka namkan Panyarawan, bilamana berada dibarat dinamakan bintang-sore yang mereka namakan Mate-Anrau-Adiau dam menunjukan arah barat.

2. Bintang-bintang yang dijadikan pedoman untuk menentukan awal tahun dan pedoman pertanian

a. Untuk menentukan perhitungan awal tahun pada masyarakat Maanyan kuno ialah dengan Awahat atau tiga bintang yang paling terang dari Big-Dipper dalam konstelasi Ursa-Major dan Owoi-Posi-Magariwai atau Orion. Kalau Orion pada sore hari antara jam 19.00-20.00 tepat berada dipuncak langit atau diatas ubun-ubun serta tiga bintang yang paling terang itu berada dikaki langit maka waktu itu mereka sebut awal dari perhitungan tahun.

Biasanya jatuh bertepatan dengan bulan Agustus dan mereka sebut bulan Kasa. Kalau pada waktu itu bulan dilangit sedang purnama, maka perhitungan awal tahun mulai dari malam esok malamnya. Demikian pula kalau waktu itu terjadi malam kelam, maka perhitungan tahun sudah berjalan dari awal malam kelam sebelumnya. Dengan demikian ada selisih paling banyak 15 hari dalam setahun, karena sebagai perhitungan untuk satu bulan mengambil peredaran bulan dilangit, sedangkan perhitungan tahun berdasarkan peredaran matahari dan bintang-bintang.

Walaupun agama Islam telah dikenal orang Maanyan dari tahun 1526, tetapi perhitungan tahun Hijriah tidak mempengaruhi kehidupan mereka, kecuali dalam hal mistik mereka menerima ilmu mistik Islam yaitu Tassawuf. Demikian pula ketika agama Kristen masuk daerah Maanyan pada tahun 1857, pemakain kalender masehi hanya terbatas pada mereka yang menerima agama tersebut. Tetapi dalam hal mengolah lahan pertanian masih tetap memakai perhitungan bulan masyarakat Maanyan kuno. Adapun nama-nama bulan dalam masyarakat Maanyan kuno ialah sebagai berikut :

Kasa sepadan dengan bulan Agustus
Karo sepadan dengan bulan September
Katiga sepadan dengan bulan Oktober
Kapat sepadan dengan bulan November
Kalima sepadan dengan bulan Desember
Kaanam sepadan dengan bulan Januari
Kapitu sepadan dengan bulan Februari
Kawalo sepadan dengan bulan Maret
Kasanga sepadan dengan bulan April
Kasapuluh sepadan dengan bulan Mei
Kasawalas sepadan dengan bulan Juni
Kaduawalas sepadan dengan bulan Juli

b. Untuk menentukan keadaan musim pada tahun yang akan dihadapi mendatang diadakan pada bulan Kasawalas atau Juni, yaitu dengan melihat apakah garis edar matahari berimpit atau tidak dengan garis edar Ursa-Major. Bila garis edar matahari berimpit dengan garis edar Ursa-Major maka tahun yang akan datang menunjukan musim penghujan. Kalau terjadi jarak antara keduanya maka tahun yang dihadapi adalah musim kemarau.
Biasanya musim kemarau terjadi 4 hingga 5 tahun sekali.

c. Bilamana keadaan musim sudah diketahui, maka pilihan untuk membuka lahan pertanian bisa ditentukan, apakah didarat atau di daerah rawa atau lu'auyang dimulai pada bulan Kaduawalas atau bulan Juni.

d. Musim menanam padi, bilamana Tandrek-Kapoi atau empat bintang diatas Awahat sudah keluar semuanya dikaki langit, biasanya dalam bulan Oktober.

e. Masa menanam padi sudah harus berakhir bilamana Awahat sudah mendekati kaki langit, biasanya bulan Desember.

f. Musim panen mulai, bilamana Owoi-Posi-Magariwai atau Orion tepat berada diatas ubun-ubun pada sekitar jam 19.00-20.00.

Ada mitologi orang Maanyan yang mengatakan, bilamana pada tahun yang sedang berjalan itu, terlihat cahaya bintang-bintang pada konstelasi Ulet-Wadi atau Pleades sangat terang, maka tahun itu pertanda baik untuk mencari binatang buruan, perikanan dan lain-lain.
Alam kemerdekaan mulai merubah kehidupan orang Maanyan, karena kalender umum atau perhitungan tahun berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari dengan perhitungan hari yag tepat telah membuat mereka berangsur-angsur meninggalkan warisan nenek moyang mereka.


Kamis, 19 Agustus 2010

Perjalanan Orang Maanyan

Asal usul orang Maanyan dan beberapa pendapat tentang penyebarannya

Orang Maanyan sebagaimana golongan penduduk di Nusantara yakni Sunda, Jawa, Bali, Batak, Minangkabau dan lainnya, termasuk dalam rumpun penduduk Austronesia. Menurut dugaan, mereka berasal dari Hindia Belakang, sekitar 2000 tahun SM, serta berdiam di wilayah Nusantara ini secara khusus dibagian selatan pulau Kalimantan .
Mereka berlayar dengan menggunakan perahu yang besar disebut Sambau/weta/banawa. Kelompok yang melakukan pelayaran itu, adalah dari satu keturunan.
Dengan menggunakan sambau tadi, kelompok ini melakukan pelayaran dilaut, dengan tujuan yang belum pasti. Yang jelas tujuan mereka itu adalah ke arah selatan. Sebagai pedoman untuk menentukan arah dilaut, mereka bisa membaca gerak bintang dan bulan pada malam hari, serta sewaktu siang hari untuk menentukan arah perahu mereka.
Bintang Salib Selatan atau Krux yang terlihat pada bulan Maret dikaki langit sebelah timur pada sore hari, akan terlihat selama enam bulan, kemudian tenggelam pada sore hari dikaki langit sebelah barat pada bulan September.
Bintang Orion, Taurus dan Peades yang terlihat pada sore hari dikaki langit sebelah timur pada bulan Desember, akan terlihat selama enam bulan, kemudian tenggelam pada sore hari dikaki langit sebelah barat pada bulan Mei.
Bintang Aquilla, Vega dan Lira yang terlihat pada sore hari dikaki langit sebelah timur pada bulan Juni, akan terlihat selama enam bulan, kemudian tenggelam dikaki langit sebelah barat pada sore hari pada bulan November.
Penyebaran orang Maanyan dari Hindia Belakang, memilih berangkat pada bulan April sampai bulan Oktober, karena cuaca pada saat itu cukup baik untuk mengadakan pelayaran. Waktu siang hari cuacanya terang untuk melihat matahari, serta dimalam hari cuacanya cukup cerah untuk melihat bulan dan bintang, sebagai pedoman menentukan arah.
Dalam pelayaran mereka ke Nusantara orang Maanyan melalui Teluk Tongkin, terus mengarungi Laut Cina Selatan dan menyusuri pesisir pantai Semenanjung Malaka. Kemudian masuk Laut Jawa bagian utara seterusnya masuk Selat Madura dan akhirnya mendarat di pantai Gresik, yang dalam lafal orang Maanyan menjadi Garasik.
Akan tetapi kehidupan di wilayah ini sudah ada, sehingga mereka sulit berintegrasi dengan penduduk setempat, lalu kelompok ini bergerak lagi kearah utara dan akhirnya membuka tempat pemukiman baru di pulau Kalimantan bagian selatan. Di tempat mereka yang baru ini, mereka mengadakan pemukiman dengan kehidupan yang baru pula. Sebagaimana layaknya kelompok anggota masyarakat lainnya, mereka juga mempunyai tempat tinggal yang menetap. Dibagian selatan pulau Kalimantan mereka tetapkan sebagai daerah pemukiman baru, untuk mengganti tempat asal mereka di Hindia Belakang. Adapun wilayah orang Maanyan itu ialah : Tane Karang Anyan, Tane Karangan Lala atau Liang Anggan, Kayu Tangi, dan Gunung Pamaton.
Di daerah mereka yang baru tersebut mereka jadikan sebagai pemukiman yang tidak mengalami perpindahan, sebab wilayah ini masih belum ada penduduknya. Hal itu memungkinkan mereka berusaha untuk mengadakan adaptasi dengan lingkungan baru serta kehidupan yang baru pula. Kelompok masyarakat yang bermukim dibagian selatan pulau Kalimantan itu, termasuk kelompok yang berbahasa Austronesia. Hal ini disebabkan cara mengucapkan bahasa-bahasa yang sama, dapat digolongkan bersama dengan bahasa-bahasa Indonesia, Filipina, Taiwan dan Madagaskar di lepas pantai timur Afrika.
Sedangkan kalau dilihat dari segi keadaan fisik, penduduk yang mendiami pulau Kalimantan, secara khusus orang Maanyan dapat digolongkan kedalam Malayan Mongoloid. Orang Maanyan selain mendiami pulau Kalimantan, mereka juga mendiami pulau Madagaskar dilepas pantai tumur Afrika.
Ada dua pendapat tentang keberadaan orang Maanyan di pulau Madagaskar.
Pendapat Pertama : Orang Maanyan berada di pulau Madagaskar karena perahu mereka terpisah dilautan sewaktu menuju kepulauan Nusantara.
Berdasarkan pendapat para ahli linguistik, pernah memperhitungkan dengan metode-metode lexico-statistik bahwa bahasa maanyan di Kalimantan terpisah dari lain-lain bahasa Indonesia bagian barat, kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi. Para ahli tersebut berpendapat bahwa sewaktu orang Maanyan berlayar menuju arah selatan perahu mereka terkena serangan angin ribut, sehingga sebagian menuju pulau Kalimantan dan sebagian lainnya terdampar di pulau Madagaskar.
Gabriel Ferrand berpendapat bahwa sebelum abad pertama Masehi banyak datang orang-orang negro Bantu dari benua Afrika lalu menetap di Madagaskar.
Kalau pendapat para ahli linguistik dan Gabriel Ferrand itu benar, tentunya orang Maanyan dan orang-orang Negro Bantu banyak menyebar ke segala penjuru pulau. Sedangkan dalam kenyatannya pada abad ke-15, ketika bangsa Portugis datang ke pulau Madagaskar orang Maanyan atau suku Merina hanya berpusat disatu tempat yaitu ditengah-tengah pulau dan orang-orang Negro Bantu bermukim pada sepanjang pantai sebelah barat dan selatan pulau Madagaskar, ditambah beberapa suku lainnya.
Berdasarkan hasil galian arkeologi yang dilakukan oleh Neville Chittick, pada sebuah kuburan tua milik orang kaya dari masyarakat Islam di Iharana dekat kota Vohemar yang modern terletak disebelah timur-laut pulau Madagaskar, telah ditemukan mata uang emas dari zaman Kalifah Fatimah abad ke-10 dang kepingan uang emas dari abad ke-12.
Dari hasil galian arkeologi itu, diketahui pada abad ke-10 menjelang abad ke-12 atau pada awal ke-13, orang-orang Negro Bantu dan suku-suku lainnya datang secara bergelombang ke pulau Madagaskar hingga memasuki abad ke-15.
Raymont Kent, seorang ahli sejarah bangsa Amerika, berpendapat bahwa orang-orang Negro Bantu yang ada di pulau Madagaskar sebagian berasal dari para budak dan yang lainnya berasal dari masyarakat umum yang bukan keturunan budak.
Orang-orang Negro Bantu asal Sofala dan pantai timur benua Afrika bermigrasi ke pulau Madagaskar, karena tertarik oleh cerita-cerita para pedagang bangsa Arab yang pulang pergi ke pulau tersebut akan kesuburan tanahnya.
Keterangan lain yang diperoleh dari seorang ahli ilmu bumi bangsa Arab asal Baghdad, bernama Al-Mas'udi bergelar Abu'lhasan yang telah datang ke pulau Madagaskar pada tahun 930 dan tahun 940, meninggal dunia dalam tahun 956, tidak pernah menyebutkan bertemu dengan orang Maanyan atau orang-orang dari kepulauan Nusantara lainnya serta orang-orang Negro Bantu yang telah bermukim di pulau tersebut.
Selain daripada itu tidak pernah terdengar adanya perang suku diantara beberapa suku bangsa yang ada di pulau Madagaskar sampai abad ke-18. Perang suku atau perang antara kerajaan-kerajaan kecil di pulau itu mulai timbul setelah raja Merina yang bernama Andrianampoinimerina naik tahta pada tahun 1787.
Raja Andrianampoinimerina ingin mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil yang ada di pulau tersebut didalam kesatuan kerajaan Merina. Kebijaksanaannya itu kemudian diteruskan oleh raja Radama I yang bertahta dari tahun 1810-1828.
Pendapat Kedua : Orang Maanyan pelopor penyeberangan ke pulau Madagaskar.
Otto Christian Dahl, dalam bukunya Malgache et Ma'anyan une Comparasion Linguistique tahu 1951, dalam kesimpulannya mengatakan bahwa orang Maanyan datang dan menetap di pulau Madagaskar pada tahun 400.
Roland Oliver dan Brian M.Fagan, dalam bukunya Africa in the Iron Age tahun 1978, mengatakan bahwa orang Maanyan datang dan menetap di pulau Madagaskar pada tahun 945-946, berlayar langsung melalui Samudera Hindia dengan 1000 buah perahu bercadik.
Dari syair-syair dalam tembang tradisional orang Maanyan kuno yang dinamakan tomet-leot, mereka telah menemukan sebuah pulau yang sepi tidak berpenduduk, lalu mereka namakan pulau itu Tane Punei Lului. Dalam syair-syair tomet-leot tersebut dijelaskan juga petunjuk tempat-tempat yang harus dilewati ketika mengadakan pelayaran menuju ke pulau Madagaskar.
Kalau kita tinjau keadaan di Nusantara pada tahun 400, maka waktu itu di Kalimantan Timur berdiri sebuah kerajaan Hindu dengan rajanya yang pertama bernama Mulawarman.
Boleh jadi waktu itu ada orang India atau orang beragama Hindu singgah di Kalimantan Selatan lalu memberitahukan bahwa ada kerajaan Hindu baru berdiri di Kalimantan Timur. Berita itu membuat orang orang Maanyan yang masih kuat menganut kepercayaan terhadap roh para leluhur merasa akan tersingkir, sehingga sebagian dari mereka yang masih berjiwa petualangan, mencoba mencari tempat pemukiman baru di luar Kalimantan Selatan dan pada akhirnya menemukan pulau Madagaskar.
Mungkin beberapa tahun kemudian, mereka yang mengadakan petualangan itu kembali ke pulau Kalimantan lalu mengetahui bahwa raja Mulawarman tidak bersifat agresif untuk memperluas wilayah kekuasaannya, sehingga orang-orang Maanyan yang ada di Kalimantan Selatan tidak perlu merasa khawatir.
Tetapi kerajaan Sriwijaya memperluas kekuasaannya sampai meliputi wilayah Jawa Barat hingga Jawa Tengah dan Empu Sendok dari Kerajaan Mataram Hindu sedang terdesak sampai ke Jawa Timur dari tahun 929-947, maka orang Maanyan yang ada di Kalimantan Selatan sebagian mengadakan evakuasi ke pulau Madagaskar yang telah mereka ketahui letaknya, dari tahun 945-946.
Kepergian mereka itu untuk menghidari kemungkinan serangan Sriwijaya yang pada akhirnya sampai juga ke pulau Kalimantan bagian selatan. Masyarakat lainnya karena sayang meninggalkan harta miliknya berupa kebun buah-buahan dan lain-lainnya, tetap bertahan walau bagaimanapun yang akan terjadi.
Dari pulau Kalimantan bagian selatan mereka berlayar menyusuri Tanjung Silat, masuk selat Bali, terus menyusuri lepas pantai selatan pulau Jawa. Setelah lepas dari ujung pulau Jawa, perahu mereka sebagaimana perahu pendahulu mereka, yaitu para petualang pada abad ke-1, terbawa arus khatulistiea (summer aquatorial current) di lautan Hindia. Dengan terbawa arus khatulistiwa tersebut mereka pada akhirnya sampai ke pulau Madagaskar. Ditempat yang baru itu mereka memulai membuat pemukiman serta kehidupan dan penghidupan yang baru pula serta beradaptasi dengan alam lingkungan yang baru.
Karena cara bertani mereka lakukan masih dengan cara perladangan yang berpindah-pindah, sehingga akhirnya mereka sampai pada bagian tengah pulau tersebut.
Perjalanan waktu membuat orang Maanyan Madagaskar atau dikenal orang Merina, zaman raja Radama I, telah menerima kedatangan Zending yang dibawa oleh INggris ke pulau tersebut, sehingga membuat kemajuan yang berarti bagi kelompok mereka, dibandingkan dengan suku-suku lainnya di pulau tersebut.
Cilik Riwut dalam bukunya Kalimantan Membangun, menyebutkan bahwa di Madagaskar ada orang Maanyan dan di Indragiri terdapat orang Banjar.
Walaupun hubungan antara orang Maanyan Madagaskar dan orang Maanyan Kalimantan tidak lagi berjalan seperti dahulu kala, akan tetapi sering touris asal Madagaskar apabila berkunjung ke Indonesia selalu bertanya dimana letak Pulau-Patai dan daerah-daerah lainnya, karena Kalimantan Selatan adalah tempat asal nenek moyang mereka.
Pada tahun 1984, pernah diminta alat-alat kesenian tradisional milik suku dayak Maanyan melewati Biro Perlengkapan Departemen Luar negeri, yang pada waktu itu dijabat oleh Bapak Rusli Djohari, Bc.Kn.
Dengan adanya pengiriman alat-alat kesenian tradisional terebut diharapkan akan mudah mengadakan komunikasi dengan anggota masyarakat secara umum, khususnya antara suku Merina dari Madagaskar dengan suku dayak Maanyan ynag ada di Kalimantan sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Apabila hubungan bisa terjalin kembali maka akan mudah mengadakan tukar menukar pikiran serta pandangan mengenai adat-istiadat, sosial budaya, hukum serta struktur kemasyarakatan dan lain sebagainya, antara anggota masyarakat suku dayak Maanyan dengan suku Merina yang ada di pulau Madagaskar.
Dengan terjalinnya hubungan yang baik, akan lebih banyak bisa dipelajari latar belakang kedua suku ini.