kata-kata mutiara

Presiden Soekarno mengatakan :
"Jangan sekali-kali melupakan sejarah!"
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya"

Presiden John Fitzgerald Kennedy mengatakan :
"Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu."

Minggu, 22 Agustus 2010

Hukum Adat Untuk Dukacita Atau Hukum Adat Tiba Matei

Kepercayaan masyarakat orang Maanyan zaman Nansarunai adalah Animis, kepercayaan ini lebih dikenal dengan sebutan agama dahulu, sebutan ini sampai pada tahun 1955. Setelah tahun 1955 pemerintah mengeluarkan satu ketentuan untuk menyebutkan anggota masyarakat yang belum memeluk agama Kristen maupun Islam khusus untuk wilayah Maanyan dan Lawangan disebut Kaharingan. Masyarakat Maanyan dan Lawangan tidak mengerti darimana asal sebutan itu. Anggota masyarakat di daerah Maanyan tidak mengenal agama Kristen akan tetapi lebih mengenal dengan sebutan agama wau. Sedangkan untuk menyebut kepercayaan mereka sendiri lebih dikenal dengan sebutan agama dahulu. Kepercayaan ini masih dapat kita temukan sampai sekarang, walaupun sekarang ini berubah menjadi Hindu Kaharingan.
Pada dasarnya kepercayaan ini adalah percaya apabila seseorang yang telah meninggal dunia pasti masuk Dato Tonyong Gahamari dengan satu persyaratan adanya suatu upacara adat kematian walaupun sangat sederhana sifatnya yaitu Pakan Tulakan tanpa mengorbankan seekor binatang, akan tetapi ditular atau diadakan upacara oleh wadian matei dengan mengucapkan kata-kata petunjuk jalan ke Dato Tonyong Gahamari dengan istilah Diki Hoyong sebagaimana mestinya. Yang menjadikan dasar bahwa arwah tersebut masuk ke Dato Tonyong Gahamari adalah Diki Hoyong atau mantra yang disertai dengan lemparan beras dilanjutkan dengan ayunan pisau tua yang ditulis dengan kapur sirih pada pisau tersebut yang dinamai Luwuk. Kegunaan dari benda ini adalah merupakan penuntun arah kepada arwah yang telah meninggal ketempat yang telah ditentukan.
Ada beberapa macam upacara adat yang berkaitan dengan duka cita yang dimiliki oleh anggota masyarakat didaerah ini antara lain :
  1. Pasar Bajang, sebenarnya tidak ada upacara yang dilakukan oleh wadian, sebab pada waktu lahir langsung meninggal. Boleh dilakukan Pasar Bajang apabila baru meninggal itu berusia kurang dari 3 (tiga) bulan. Pelaksanaan Pasar Bajang, yaitu jenazah dikuburkan dicelah akar pohon kayu besar.
  2. Pakan Tulakan, adalah upacara adat tentang duka cita yang paling sederhana sifatnya yang dimiliki oleh masyarakat Maanyan dengan tanpa mengorbankan seekor binatang akan tetapi dilakukan upacara adat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  3. Jenis upacara yang ke-3 mempunyai dua kemungkinan yaitu: Pakan Handrueh Tanan Rapu atau Pakan Handrueh Nyingkap Tim'muk kedua upacara ini lebih sempurna dari kedua upacara mengenai duka cita karena adanya binatang korban seperti babi, ayam dan lain sebagainya. Serta ada juga kemungkinan diselenggarakan upacara Miya, bila keadaan memungkinkan dari segi kemampuan keluarga yang meninggal.
  4. Miya atau lebih dikenal dengan sebutan Miya Misaya, upacara ini memakan waktu 3 hari serta 3 malam. Akan tetapi dalam pelaksanaannya memerlukan waktu 4 hari 3 malam. Tujuh hari sebelumnya upacara Miya, dilakukan kegiatan mendirikan sebuah bangunan yang sangat sederhana sifatnya yaitu tempat memasak untuk keperluan Miya yang disebut Gagulang. Bangunan tersebut berada disamping rumah kearah belakang, letak bangunan ini tidak menjadi masalah yang penting terletak disamping tempat orang yang melakukan upacara Miya. Upacara Miya juga boleh mengorbankan seekor kerbau yang biasa disebut Miya Munu Kerewau. Upacara ini memakan waktu 5 hari 4 malam, biasanya ada sebuah patung dengan wajah orang yang sudah meninggal dibuat Balontang sebagai tempat untuk mengorbankan kerbau. Upacara Miya tanpa mengorbankan kerbau disebut Miya Telo Malem. Pada hari pertama upacara Miya disebut Andrau Tarawen, pada kesempatan ini kegiatan banyak terpusat pada pembuatan Puja (membuat benda-benda mirip binatang yang terbuat dari daun kelapa dan daun enau) yang diberi warna warni. Apabila sudah selesai pembuatan Puja tersebut kemudian digantungkan di Galantang (menyerupai rumah kecil). Pada Andrau Tarawen dibuat juga tempat memasang gong yang namanya juga Galantang yakni tempat Nabuh (nabuh gong), bunyi yang dikeluarkan cukup berirama sebagai tanda Miya telah dimulai.Mengorbankan seekor babi dengan beberap ekor ayam sebagai syarat dimulainya Andrau Tarawen, orang-orang yang mengatur tata cara yang berhubungan dengan kegiatan Miya disebut Pisambe Wadian. Wadian Matei yang melakukan kegiatan ini terdiri dari beberapa orang, pada malam pertama dan seterusnya sampi malam terakhir (Malam Nampatei) diadakan Tarung dan Nyunang. Sebelum dimulai Tarung dan Nyunang, biasanya didahului dengan minum tuak yang kadar alkoholnya rendah, secara bersama-sama dipimpin oleh seorang pembawa acara yang disebut Anak Tangganyungan. Setelah minum tuak selesai baru diadakan pemilihan untuk acara Narung yang berasal dari keluarga yang melakukan upacara Miya yang leboh dikenal dengan sebutan Ulun Putut Lewu. Pemilihan untuk Narung dilakukan dengan cara yang sangat demokrasi serta kekeluargan sifatnya. Dalam acara Narung tersebut dikisahkan mengenai keadaan kehidupan serta penghidupan orang yang melakukan upacara ini, dengan menggunakan kata-kata yang sangat halus serta mempunyai nilai sastra yang tinggi mutunya. Pada kesempatan ini banyak orang terharu mendengar kata-kata yang diutarakan ditengah duka cita seperti ini. Demikian juga Nyunang lebih seru lagi dari pada narung, karena merupakan satu balasan yang kata-kata yang diutarakan oleh yang melakukan narung. hari yang kedua disebut Gelanggang tempat mengadu ayam jago yang disebut Manguntur. Pada hari yang kedua ini juga mengorbankan seekor binatang (babi) dengan beberapa ekor ayam sebagai sesajen kepada arwah yang meninggal. Pada malam hari acara narung dan Nyunang, biasanya dari luar lingkungan keluarga yang datang hendak menyaksikan adu jago, akan tetapi bisa diwakili oleh pihak keluarga dari pihak laki-laki maupun pihak perempuan. Pada hari yang ke-3 disebut Andrau Irupak, kegiatan pada hari ini adalah mengadu ayam jago dimanguntur dengan menggunakan pisau kecil yang disebut dengan istilah Taji. Pada hari yang terakhir dari kegiatan Miya adalah Nantak Syukur artinya selam 3 tahun mereka harus mengingatkan arawah yang meninggal itu dengan cara mengantar sesajen ke makam yang disebut Nuang Panuk. Setelah 49 hari terhitung dari hari Nantak Syukur, ada lagi upacara yang bernama Siwah, dimana pada malam harinya diadakan kegiatan tari giring-giring yang dilakukan oleh anggota masyarakat secara bersama-sama.
  5. Ngadaton adalah upacara adat tentang duka cita yang paling tinggi nilainya dan sempurna diantara tata aturan dibandingkan upacara duka cita yang dimiliki oleh anggota masyarakat Maanyan. Upacara ini jarang sekali dilakukan oleh anggota masayarakat karena memerlukan biaya yang cukup banyak. Pada dasarnya makam tempat mengubur jasad orang dilakukan dengan upacara Ngadaton. Upacara ini dalam pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan upacara Miya. Hanya sedikit perbedaannya yaitu dari segi lamanya waktu penyelenggaraan upacara tersebut.
  • Dalam upacara Ngadaton ini dapat dibagi menjadi dua bagian antara lain :
  1. Ngadaton Patei Iwek (upacara Ngadaton memotong babi) disebut upacara Ngadaton Bujang.
  2. Ngadaton Patei Kerewau (upacara Ngadaton memotong kerbau) disebut upacara Ngadaton Jari.
Pada dasarnya kedua jenis upacara ngadaton tersebut diatas adalah tidak berbeda. Hanya perbedannya adalah dari segi pemotongan kurban sebagai persembahannya.
Kalau yang pertama hanya memotong binatang untuk persembahan babi yang berjumlah 6 (enam) ekor selama upacara berlangsung, sedangkan kalau pada upacara Ngadaton yang kedua menjadi kurban persembahannya adalah kerbau. Kerbau ini dikurbankan pada hari keempat.
Urutan hari-hari dalam penyelenggaraan upacara Ngadaton adalah sebagai berikut :
Hari pertama disebut Andrau Tarawen.
Hari kedua disebut Andrau Irumpak, yang kegiatannya tidak ada beda dengan kegiatan pada acara Miya.
Hari ketiga disebut Andrau Nyurat. Dalam acara ini kegiatan banyak berfokus pada pembuatan relief pada peti mati. Relief yang dipahat atau digambar pada peti mati tersebut menceritakan bagaimana kehidupan orang yang telah meninggal dan kehidupan nantinya di Dato Tonyong Gahamari yang serba menyenangkan . Pada hari yang ketiga tersebut terkenal dengan sebutan Andrau Nyurat Papan Binulantan (rarung). Pada acara Nyurat diperlihatkan motif seni pahat yang paling tinggi mutunya yang dimiliki atau yang ada pada masyarakat Maanyan.
Hari keempat disebut andrau Irapat, pada acara ini kegiatan ada dua bagian yang terpenting yakni acara mengadu ayam dan memotong kerbau. Pada acara memotong kerbau dilakukan dengan cara menombaknya terlebih dahulu, sma dilakukan pada acara Miya. Setelah selesai ditombak kerbau tersebut kemudian disembelih diatas sebuah lesung. Karena legenda masyarakat Maanyan secara umum binatang kerbau berasal dari seorang gadis yang tertidur pada sebuah lesung dan berubah menjadi seekor kerbau. Makatiap kali memotong kerbau harus dibaringkan pada sebuah lesung.
Setelah kerbau itu dipotong maka tubuh binatang itu ditutupi dengan kain yang disebut Sin'nai serta ditangisi oleh beberapa orang yang disebut oleh orang Maayan Nangis atau meratap.
Pada hari yang keempat inilah ada seorang yang disebut Liyo atau Dalam Liyo. Orang tersebut melakukan kegiatn meinta-minta dan kepada pengunjung acara buntang diberi tahu bahwa hari tersebut ada orang selalu eminta-minta samapai binatang pengorbanan sudah dipotong baru Dalam Liyo berhenti melakukan tugasnya. Hasil dari Dalam Liyo tersebut diberikan kepada wadian yang melakukan upacara, dan wadian yang melakukan upacara Ngadaton adalah wadian matei yang sama digunakan pada waktu Miya. Hari terakhir dari upacara Ngadaton adalah Andrau Nantak Syukur, hal ini sama juga pengertiannya dengan Nantak Syukur pada acara Miya, seperti yang telah diterangkan pada bagian sebelumnya. Pada waktu mengubur jasad orang yang dilakukan upacara adat Ngadaton ini ada yang disebut Kawalik. Kawalik tersebut merupakan pelayan bagi roh orang yang meninggal sampai di Dato Tonyong Gahamari nantinya. Pada setiap malam harinya selama acara Ngadaton berlangsung dilakukan juga acara Tarung Nyunang, yang sama seperti Miya. Demikian selam tiga tahun berturut-turut dilakukan acara dengan apa yang disebut Nuang Panuk. Pada tahun yang ketiga atau tahun penutup dilakukan acara dengan apa yang bersamaan Nuang Panuk pada pagi harinya, dan diteruskan daengan acara Miempu sebagai ucapan terima kasih kepada Hiyang Piumbung Jaka Pikuluwi yang selalu memberikan rejeki dan kemudahan dalam tahun-tahun yang sudah dilalui tersebut.
Dalam tahun yang terakhir ini jarang sekali kita semua jumpai anggota masyarakat melakukan upacara ini. Hal ini dikarenakan biaya yang mahal dan segala peraturan untuk melakukan hal tersebut sangata sulit untuk dipenuhi. Selain itu juga jumlah penganut dari kepercayaan ini semakin menipis, dipengaruhi oleh kepercayaan alainnya.
catatan : Upacara Ngadaton dengan mengikut sertakan Kawalik berlangsung sesudah hukum adat ditetapkan oleh Uria Ren'na dan Uria Biring pada abad ke-16 dan berakhir pada abad ke-19 sesudah dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda.

Tidak ada komentar: