kata-kata mutiara

Presiden Soekarno mengatakan :
"Jangan sekali-kali melupakan sejarah!"
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya"

Presiden John Fitzgerald Kennedy mengatakan :
"Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu."

Minggu, 11 September 2011

KISAH TRAGEDI YANG MENIMPA URIA RIN’NYAN


Kisah ini didasari dari penuturan orang-orang tua  Ja’ar-Sangarasi.

Ditulis dan diketik oleh Sutopo Ukip dan Rinson Balantek.



Pada bulan April 1599, sehabis  musim buah-buahan di daerah Ma’anyan, dua bulan sesudah Uria Rin’nyan membawa upeti ke Banjarmasin datanglah dua orang utusan Sultan Suriansyah ke Lasi-Muda membawa patok bakakak (tulisan/huruf orang Ma’anyan dahulu)  dan berpesan supaya Uria Rin’nyan segera menghadap ke Bandarmaseh dalam waktu 9 hari. Sebelumnya Uria Rin’nyan menanyakan sesuatu kepada kedua utusan Sultan yang membawa patok bakakak itu. Setelah menyampaikan patok bakakak kepada Uria Rinyan, kedua utusan Sultan turun ke perahu dan segera memerintahkan para pendayung mendayung ke arah pulang. Sambil berkali-kali memegang patok bakakak yang diterimanya itu Uria Rin’nyan minta orang-orang di Lasi-Muda berkumpul untuk membicarakan masalah, siapa-siapa saja yang bersedia mengikutinya berlabuh ke Bandarmaseh. Setelah dikumpulkan maka ada 41 orang yang bersedia mengikuti perjalanan ke Bandarmaseh untuk bertemu dengan Sultan. Kepada isteri dan kedua  anaknya dinasehatkan supaya baik-baik menjaga rumah. Demikian pula kepada adiknya Pahulu Sotik dipesankan bilamana ada orang ke Sangarasi harap memberitahukan ke Uria Lan’na atau Uria Renda bahwa Uria Rin’nyan pergi ke Bandarmaseh. Selesai mengadakan pesta  kecil pada malam hari maka keesokan paginya mereka bertolak  dengan membawa 8 buah perahu.

Sebelum mereka tiba disungai Barito, hari sudah menjadi gelap. Uria Rin’nyan memutuskan untuk bermalam dekat muara Sungai Sirau. Keesokan harinya setelah mereka bangun dari tidur semalam suntuk bertanyalah Uria Rin’nyan, siapa saja dari mereka yang mengikuti perjalanan ini mempunyai mimpi dan siapa saja dari mereka yang tidak mempunyai mimpi tadi malam. Hampir serentak semua yang hadir menerangkan bahwa rata-rata mimpi mereka buruk. Masing-masing bermimpi kehilangan gigi, mendengar rusa menangis,  kijang berteriak, mendengar dahan kayu runtuh semenjak keberangkatan dari Lasi-Muda. Dari 41 orang pengikut Uria Rin’nyan; 40 orang bermimpi buruk dan hanya satu orang duda yang tidak memberitahukan mimpinya. Duda tersebut mempunyai tubuh yang kecil pendek, belum pernah ke BandarMaseh, sehingga ia dengan senang hati bergabung dalam rombongan Uria Rin’nyan. Tidak jelas siapa nama aslinya, hanya ia dipanggil bapak Karuwang, dan panggilan namanya secara singkat yaitu Ma’ Karuwang. ‘selamat pagi Ma’ Karuwang, bagaimana mimpimu tadi malam?’ tanya Uria Rin’nyan kepadanya. ‘Ya, tuan saya bermimpi, begitu kaki saya lepas dari darat dan masuk perahu, saya mendengar bunyi burung Sit selalu mengiringi saya hingga tadi malam’. ‘Oh, kalau begitu, engkaulah satu-satunya yang bisa kembali pulang sampai ke rumah nantinya sesudah perjalanan ini’ sahut Uria Rin’nyan. ‘Karena keempat puluh orang termasuk saya sendiri tidak dapat kembali utuh, melainkan hanya pulang nama saja’.

‘Apakah kita akan dibunuh oleh Sultan’, tanya semua yang hadir. ‘Saya tidak tahu pasti, tetapi menurut firasat mimpi kita yang buruk itu, saya berkeyakinan kita semua akan kembali nama, kecuali Ma’ Karuwang  yang kembali dengan utuh’. ‘Ah, barangkali mimpi kita yang aneh-aneh itu hanya sekedar kembang tidur saja’, sahut mereka mengkomentari pendapat Uria Rin’nyan. ‘Kita harap mudah-mudahan tidak lebih dari sekedar kembang tidur saja’, jawab Uria Rin’nyan menghibur.

‘Apakah ada diantara kita pernah berbuat sesuatu kesalahan sehingga Sultan menjadi murka’, tanya seorang pengikut yang lain. ‘Para tetiangku yang baik, tidak ada yang bersalah, mungkin hanya kesalah fahaman saja’. ‘Dua bulan yang lewat sewaktu saya berlabuh ke Bandar Maseh membawa upeti tahunan seperti biasa yang aku lakukan, aku telah dipanggil Puteri Norhayati isteri kedua Sultan’. Dalam pertemuan itu Puteri Norhayati melepas rindunya berbahasa Ma’anyan yang telah lama tidak dipergunakannya’. Demikianlah diceritakan secara singkat oleh Uria Rin’nyan kepada pengikutnya. ‘Kalau itu yang Bapak Uria lakukan mungkin Sultan ada sesuatu perintah selanjutnya yang perlu kita penuhi nantinya’, sahut yang lainnya lagi. ‘Kita harap saja demikian’, sahut Uria Rin’nyan lagi. ‘Oh, ya ..kelihatannya Ma’ Karuwang melilitkan kain Sindai dipinggang, apakah ada sesuatu yang disimpan didalamnya?’

‘Ada’, sahut Ma’ Karuwang sambil membuka lilitan kain Sindai dari pinggangnya. ‘Ini ada sebuah boli-boli, berisi beras kuning dan ini ada dua buah paku besar. ‘Untuk apakah kegunaan barang-barang itu?’ tanya yang lain.’Waktu aku masih kecil diceritakan oleh almarhum ayahku bahwa kalau dalam perjalanan jauh bawalah beras kuning untuk ditebar keatas, sebagai alat pemanggil Hyang penolong kita bila dalam kesulitan’. ‘Saya lupa, seharusnya aku membawa beras kuning juga sesuai perintah ibuku’, sahut Uria Rin’nyan. ‘Dan apa pula kegunaan kedua buah paku besar itu’, tanya yang lain lagi.

‘Atas nasihat almarhum ayahku juga, kalau kita bepergian jauh melalui sungai kita sebaiknya membawa senjata, walaupun kecil sekalipun’. ‘Seandainya perahu kita karam diterjang buaya dan kita bernasib malang ditangkap binatang itu, cepat-cepatlah tikam dengan benda keras kearah kedua biji matanya. Dimata itulah titik lemah seekor buaya, dan kalau kena tikaman sampai keluar darah, buaya yang bersangkutan akan segera melepaskan moncongnya untuk selanjutnya pergi dari tempat itu, dan akhirnya akan mati dengan sendirinya’.

‘Terima kasih banyak Ma’ Karuwang atas penjelasannya’, sahut Uria Rin’nyan. Selanjutnya Uria Rin’nyan berkata : ‘ saudara-saudara sekalian harap memotong ujung kuku jari kaki dan ujung kuku jari tangan masing-masing untuk diserahkan kepada Ma’ Karuwang. ‘Apakah Bapak Uria yakin bahwa rombongan kita ini akan pulang nama?’

‘Kita tidak mengharapkan nasib buruk akan menimpa diri kita tetapi maut adalah rahasia Hyang , kita harus bersedia terlebih dahulu’. Begitulah semua mereka menyerahkan potongan ujung kuku kaki dan tangan, berikut beberapa helai rambut untuk disimpan Ma’ Karuwang didalam boli-bolinya, sebagai rapo atau tanda yang bersangkutan apabila kemungkinan pulang hanya nama sesuai dengan kepercayaan orang Ma’anyan bahwa roh manusia itu berada pada ujung kuku dan rambut orang yang sudah meninggal dunia. Setelah selesai sarapan pagi kedelapan perahu itu meluncur perlahan ke arah hilir menuju ke Bandarmaseh. Selang 5 hari tibalah rombongan itu dipelabuhan Bandarmaseh. Ditepi pelabuhan sudah menunggu beberapa prajurit Sultan bersenjata lengkap.

Uria Rin’nyan dipersilahkan naik ke darat, sedang para pengikutnya disuruh tetap tinggal di perahu mereka masing-masing. Uria Rin’nyan seperti biasa dipersilahkan menempati rumah pesanggrahan khusus  untuk tamu Sultan. Waktu istirahat malam harinya Uria Rin’nyan didatangi oleh utusan Sultan yang membawa  Patok-Bakakak ke Lasi-Muda beberapa hari yang lalu. Dijelaskan oleh utusan itu bahwa Uria Rin’nyan besok pagi diminta Sultan untuk menghadap. Pada keesokan harinya sekitar jam 09.00 pagi Uria Rin’nyan datang menghadap. Dengan senyuman penuh tanda tanya Sultan Suriansyah mengatakan bahwa Uria Rin’nyan jadi Dam’mong atau raja di Patai Suku Hawa belum didodos oleh Sultan, maka hari ini Sultan berniat mengadakan pendodosan Uria Rin’nyan sebagai wakil Sultan di daerah Patai Suku Hawa.

‘Supaya lebih mantap kedudukan saudara sebagai raja mewakili saya, maka perlu didodos’, ujar Sultan. Uria Rin’nyan dipersilahkan menukarkan pakaiannya yang dibawa dari Lasi-Muda dengan kain putih-putih di sebuah kamar yang khusus untuk itu. Selesai berganti pakaian,Sultan mempersilahkan Uria Rin’nyan duduk dikursi, untuk dicukur lebih dahulu rambutnya secara gundul, sebelum dimandikan dengan air kembang 7 rupa sebagai air pendodosan. Belum sampai habis secara bersih kepala Uria Rin’nyan dicukur oleh sultan, secepat kilat Sultan mencabut keris berwarna kuning emas bertahta intan dikedua bidang matanya dan langsung dihujamkan kehulu hati Uria Rin’nyan, sambil berkata : ‘inilah hukumannya bagi orang-orang yang berani memalukan Sultan’. Tanpa dapat membela diri sedikitpun Uria Rin’nyan tewas seketika. Mayatnya dibuang jauh diseberang kali Kuin, yaitu disekitar kali Kerokan sekarang. Lalu apa yang terjadi  dengan para pengikut Uria Rin’nyan. Sultan memerintahkan prajurit-prajuritnya supaya pengikut Uria Rin’nyan tetap tinggal diatas perahu mereka.

Pengikut Uria Rin’nyan tidur satu malam diatas perahu, pada malam berikutnya datang tambahan prajurit Sultan, sehingga jumlahnya sekitar 50 orang. Komandan prajurit itu memerintahkan kepada rombongan pengikut Uria Rin’nyan supaya pindah tempat menambatkan perahu dengan alasan disini merupakan pelabuhan. Karena disini banyak kegiatan perahu lainnya yang memerlukan tempat. ‘akan kami tunjukkan tempat menambatkan perahu yang lebih aman bagi saudara-saudara sekalian’, ujar komandan prajurit Sultan. Kemudian delapan perahu itu digiring ketengah sungai Barito. Setibanya ditengah sungai secara serentak prajurit-pr.ajurit Sultan menggulingkan kedelapan perahu itu. Seluruh pengikut Uria Rin’nyan jatuh ke dalam air dan dibuat tidak berdaya. Mereka dicekik dan ditikam dengan senjata. Nasib baik bagi Ma’ Karuwang ia dapat berpegang pada lantai perahu yang ia tumpangi dalam posisi terbalik. Badannya berada dibawah perut perahu dan kepalanya tersembul sedikit dipermukaan air sekedar dapat menghirup udara untuk bernapas. Berhubung tubuhnya kecil ia tidak terlihat oleh prajurit-prajurit Sultan, saat kejadian itu suasana remang-remang dan bulan dilangit posisi bulan sabit.

Ketika dianggap tidak ada lagi yang masih hidup berkatalah komandan prajurit itu : ‘Tadi siang Sultan telah menamatkan riwayat pemimpin mereka dengan tipu muslihat yang jitu, sekarang aku menipu para pengikutnya dengan pura-pura mencari tempat yang aman untuk menambatkan perahu padahal tempat yang aman diakhirat atau diperut buaya. Sekarang marilah kita pulang dan melaporkan kepada Sultan akan hasil baik pekejaan kita. Semua apa yang diucapkan oleh komandan prajurit itu didengar oleh Ma’ Karuwang. Setelah keadaan dianggap cukup aman perlahan-lahan ia berenang menuju ketepi sungai Barito pada posisi lainnya untuk menghindar dari kemungkinan berjumpa dengan orang-orang dari Bandarmaseh. Dengan tertatih-tatih Ma’ Karuwang berjalan menelusuri tebing sungai Barito yang penuh dengan rawa-rawa ke arah hulu dan akhirnya ia memutuskan untuk tidur dengan bergantungan di kain Sindainya diatas sebuah  pohon yang rendah. Pada pagi harinya perjalanan ia teruskan dan memakan umbut-umbutan pelepas rasa lapar hingga sore harinya ia sampai pada sebuah pohon kayu tangi yang besar. ‘Sebaiknya aku menaiki pohon besar ini untuk keesokkan harinya dapat melihat suasana alam sekitar dalam jarak pandang yang jauh dan bisa menentukan arah perjalanan selanjutnya’, ujar Ma’ Karuwang dalam hatinya. Bermodal dua buah paku besar yang ia bawa dari rumah, ia memanjat pohon besar itu, hingga sampai kedahan yang paling atas.

Teringat olehnya beras kuning yang ia bawa dari rumah, maka beras kuning itu ia tebarkan sambil kakinya menginjak pada dahan kayu tangi. Dalam menebarkan beeras kuning itu ia minta pertolongan Dewa Petir, yaitu Nanyo Abeh dari Lasi-Muda. Tidak berapa lama kemudian ketika matahari mulai tenggelam tiba-tiba langit disebelah utara kelihatan gelap dan selanjutnya seperti digoncangkan gempa yang keras pohon kayu tangi itu bergoyang.

Setelah Ma’ Karuwang menengok keatas terlihat seekor burung garuda besar bertengger dan mulai merapikan tubuhnya untuk bersiap-siap tidur malam. Terlihat juga oleh Ma’ Karuwang besar kaki burung garuda itu sebesar guci wangkang yaitu sejenis guci yang langsing bentuknya, sedangkan jalo atau tajinya sebesar paha manusia. Terpikir oleh Ma’ Karuwang mungkin inilah pertolongan yang diberikan Nanyo Abeh bagi dirinya. Begitu malam sudah larut , dalam keremangan cahaya bulan sabit, mulailah Ma’ Karuwang merayap mendekati kaki burung garuda besar itu, selanjutnya menyangkutkan kain sindainya dikaki tepat dipangkal tajinya.



Bersambung dengan Kisah Ma’ Karuwang ke kampung orang siluman....

Tidak ada komentar: