kata-kata mutiara

Presiden Soekarno mengatakan :
"Jangan sekali-kali melupakan sejarah!"
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya"

Presiden John Fitzgerald Kennedy mengatakan :
"Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu."

Jumat, 14 Oktober 2011

UPACARA RITUAL NYULI (RITUAL CEREMONIES NYULI)


Upacara ritual nyuli dilakukan oleh anggota masyarakat dari daerah suku Lawangan atau Luangan yang berada didaerah aliran sungai Mantalat, Ayuh dan Paku Karau. Ketiga sungai tersebut merupakan anak sungai Barito. Latar belakang timbulnya gerakan nyuli yang dilakukan oleh masyarakat tersebut diatas dapat diambil kesimpulan sementara :
- Dari segi legenda yang dimiliki oleh anggota masyarakat setempat
- Dari segi rasa tidak puas terhadap pimpinan mereka sendiri didalam melakukan sesuatu kebijakan
- Dari segi politik dan ekonomi yang dirasakan masyarakat semakin sulit
- Karena kedinamisan anggota masyarakat.
Keempat penyebab timbulnya gerakan nyuli akan dibahas satu persatu kemudian.

Dari segi legenda : yang terdapat dikalangan anggota masyarakat Lawangan mempunyai tiga macam versi sehingga melahirkan pengertian nyuli :
1. Legenda Samarikung
2. Legenda Ayus Kakah Gajah
3. Legenda Anjang Ngorong bersaudara yang disebut Raja Kapak.

Untuk melaksanakan kegiatan nyuli tersebut dilakukan dengan cara upacara ritual penyucian roh nenek moyang mereka yang sudah meninggal.
Akan tetapi upacara penyucian roh-roh nenek moyang tersebut sudah melampaui kaidah yang biasa dilakukan oleh anggota masyarakat. Hal ini disebabkan ada unsur-unsur tertentu yang terlibat didalam upacara tersebut. Upacara yang,melebihi kaidah umum, oleh anggota masyarakat ialah upacara nyuli. Upacara nyuli ini merupakan suatu upacara yang bertujuan agar roh nenek moyang mereka bisa kembali lagi yang kedua kali dan menciptakan surga yang ada didunia ini dengan Ayus Kakah Gajah sebagai pemimpin yang dapat mengalahkan Samarikung sehinggaTengkura Wanten tidak diperlukan lagi. Sebab Samarikung sudah dapat dikalahkan oleh Kakah Gajah sedangkan inti dari gerakan nyuli ini adalah bangkitnya roh orang yang telah mati itu untuk memulihkan dunia ini.

Dari segi rasa tidak puas terhadap pimpinan mereka : Gerakan nyuli ini bisa terjadi diluar dari pada legenda karena merasa tidak puas dengan cara memimpin mereka. Karena dalam mengambil tindakan atau kebijaksanaan terlalu memberatkan warga masyarakat dan anggota masyarakat lalu mengadakan hal-hal yang menyalahi ketentuan yang sudah ada.
Pertama gerakan nyuli ini dilakukan oleh masyarakat Lawangan/Luangan pada tahun 1887. Gerakan nyuli melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Sultan Pasir yang bertindak dengan tegas terhadap gerakan itu serta dapat menindas dengan cepat.
Een dergelijke verzetsbeweging herhaaldezich 1901 in Pasir Debevolking aan de sei kwaro weigerde de schaatting aan de sultan op te brengen. De Mantri Mangkoe Negara en Kiai Singamarta alias andri van Pasir, maakten zich daarop gerecd on een balian nyuli waa raan 400 man deelnamen uit elkanderte slaan. Maar op het gerucht van komst sloegen de nyoliers op de vlucht. ( DR.W.K.H. Feuilletau de Bruyn. De Nyoelibeweging Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo Groningen, Ko.T.v.23,1934.P.,41.)
Kejadian diatas itu merupakan suatu kebijaksanaan yang tidak dapat diterima oleh anggota masyarakat, yang diterapkan oleh para pemimpin mereka. Sehingga anggota masyarakat yang melakukan biasanya tidak pernah oleh mereka secara umum. Gerakan itu menyalahi ketentuan yang ada didalam pergaulan mereka sehari-hari. Karena kebijaksanaan yang salah akan melahirkan keresahan sosial, sehingga menimbulkan gerakan ini timbul kembali. Hal ini juga disebabkan kurangnya komunikasi antara warga dengan para pemimpin wilayah, serta penguasa melakukan kebijakasanaan dengan semena-mena, tidak melihat maupun memahami penderitaan atau warganya yang termarjinalkan (tersisih/terpinggirkan).

Dari segi Politik dan Ekonomi juga dapat menimbulkan gerakan ini. Karena masyarakat merasa kekurangan sandang serta papan disebabkan stabilitas politik yang terus tidak menentu, serta tidak memungkinnya anggota masyarakat dapat berusaha dengan aman. Untuk keperluan ekonomi rumah tangga mereka agar dapat bertahan sampai keadaan menjadi baik maka banyak kegiatan yang mereka lakukan.
Mereka yang bersedia mengikuti gerakan tersebut diharuskan oleh pengurus membeli minyak yang dinamakan Ollau Panyuli (J. Mallinckrodt. Nyuli Dikalangan Suku Dayak Lawangan di Keresidenan Kalimantan Selatan dan Timur., Penerbit Bhratara, 1973., hlm 28).
Hal yang demikian juga mengalami kegagalan sebab pasukan keamanan selalu mengawasi setiap kegiatan yang dilakukan oleh anggota masyarakat secara umum. Pasukan keamanan dari pemerintah kolonial Belanda waktu itu selalu menaruh curiga kegiatan yang dilakukan masyarakat. Karena kejadiannya justru berakhir dengan pertempuran perang Banjar yang berakhir di daerah ini juga. Oleh sebab itu, setiap gerakan yang timbul didaerah ini ada kaitannya dengan sisa-sisa dari pasukan Perang Banjar.
Memang ada perbedaan pendapat antara J. Mallinckrodt dengan DR. W.K.H. Feuilletau de Bruyn mengenai timbulnya gerakan nyuli dalam tahun 1910,1920, 1922, dan 1924.
Mallinckrodt van meening dat invoer van incuwe balasting en, verwerning van heerediensten, vrees voor invoering van de landrete, de directe aanleidingen waren tothet oplaaien van de beweging speciaal in de jaren 1910, 1920, 1922 en 1924 (DR. W.K.H. Feuilletau de Bruyn, o.c.,p.53)
Sedangkan pendapat dari DR.W.K.H. Feuilletau de Bruyn adalah Dat inder daad deze oozaken kunnen hebben medegewarkt tot het versterken van de beweging, is juist. Maarpractish zijn in de jaren 1919 – 1923 eigenlijk ieder jaar berichten omtret nyolien binnen gekomen Dat de redenen die die Mallinckrodt aangeelft de directe aanleiding waren kan daarom nietjuist zijn (ibid.,p.53).
Kalau dihubungkan dengan keadaan ditanah air pada waktu itu, tengah terjadi suatu pergerakan Nasional dengan berdirinya Boedi Oetomo, yang mencoba melakukan perjuangan yang tidak lagi bersifat lokal. Akan tetapi sudah mengarah kepada perjuangan yang sifatnya menyeluruh disertai usaha pergerakan yang dilakukan dengan satu pimpinan untuk mengusir kaum penjajah. Timbulnya kegiatan nyuli ini dalam tahun yang telah disebutan, juga tidak terlepas dari pengaruh ajaran Boedi Oetomo yang menitik beratkan pada perjuangan kesatuan dan persatuan anggota masyarakat. Gerakan yang dilakukan oleh masyarakat Lawangan, juga tidak terlepas dari pada bentuk perjuangan untuk mengusir kaum penjajah asing. Kegiatan ini merupakan manifestasi dari gerakan Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda serta perjuangan lainnya pada masa itu.
Gerakan atau kegiatan nyuli yang terjadi dalam tahun 1910,1920,1922 dan 1924 merupakan wujud pemberontakan terhadap kebijaksanaan yang diambil oleh pemerintah kolonial Belanda yang terlalu campur tangan dalam kehidupan anggota masyarakat. Pemerintah kolonial Belanda tidak pernah memperhatikan segala sarana dan prasarana bagi usaha peningkatan kehidupan dan penghidupan anggota masyarakat secara umum. Yang dilakukan oleh pemerintah kolonial pada saat itu hanyalah menarik pajak serta memeras tenaga rakyat tanpa memberikan imbalan yang seimbang.
Perlawanan rakyat didaerah, dimana pemerintah kolonial Belanda berada banyak menggunakan tenaga kerja setempat tanpa memberikan imbalan yang wajar maka gerakan nyuli sering timbul aksinya. Gerakan ini merupakan gaya pemberontakan suku Lawangan secara khusus serta masyarakat Ma’anyan secara umum.   

Catatan :
Gerakan Nyuli mungkin dapat bangkit kembali pada masa modern ini bilamana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah tidak peka terhadap anggota masyarakatnya.

LAWANGAN HISTORY PART VIII

PERKAWINAN DARI KECIL SAMPAI BESAR MENURUT KEPERCAYAAN KEHARINGAN LUANGAN

1. Kawin Dusa atau tertangkap basah.....
2. Kawin Seletamput atau kawin lari.....
3. Kawin Perkeu ......
4. Kawin Nengkasur Balu atau mengganti Balu.....
5. Kawin secara Meminang dengan cara kecil-kecilan......
6. Kawin secara Meminang yang sederhana......
7. Kawin secara Meminang yang agak besar-besaran......
8. Kawin secara Meminang yang besar-besaran........
9. Kawin Meminang secara Tuyo Amal Keharingan Luangan......
..........
..........
.......... to be continued.........

Silahkan kirimkan saya sumbangan sebagai rasa simpati anda terhadap blog ini ke :
Please send me your sympathy donations as of this blog to:
BRI (Bank Rakyat Indonesia)
Cabang/Branch : 0420 KC JKT Panglima Polim
Nomor rekening/Account Number : 0420-01-004177-50-2
Jakarta - Indonesia
Atas nama/On behalf of Hadi Santosa

LAWANGAN HISTORY PART VII

PERATURAN KEMATIAN MENURUT KEPERCAYAAN KEHARIANGAN LUANGAN

1. Kematian dalam keadaan darurat yang adatnya hanya....
2. Adat kematian yang diatur dengan adat Ninjeu.....
3. Adat kematian yang diatur oleh Belian Bawo satu malam........
4. Adat kematian Teluyang erang malem......
5. Adat kematian yang agak sederhana yaitu Wara Tiga Malam.....
6. Adat kematian tujuh hari tujuh malam sejenis Mansar.....
7. Adat Nulang........
8. Adat Nulang yang mengadakan Tabela.......
9. Adat Ngerering.....
10. Adat membongkar tulang-tulang yang telah lama dikebumikan yaitu....
..........
..........
..........to be continued......

Silahkan kirimkan saya sumbangan sebagai rasa simpati anda terhadap blog ini ke :
Please send me your sympathy donations as of this blog to:
BRI (Bank Rakyat Indonesia)
Cabang/Branch : 0420 KC JKT Panglima Polim
Nomor rekening/Account Number : 0420-01-004177-50-2
Jakarta - Indonesia
Atas nama/On behalf of Hadi Santosa

LAWANGAN HISTORY PART VI

SEJARAH BERITUN TUNJUNG, MUDA LAYUNG MUDA DAHUR, MUDA LAYANG

Orang orang tersebut oleh karena merasa sudah terlalu banyak penduduk, corak juga ragamnya maka langgar di Pasar Arba Benua Lawas diserahkan kepada penduduk setempat. Dan orang orang tersebut langsung mudik mensiwak ine beserta rombongan, yaitu yang dikatakan sungai Barito. Setelah sampai dimuara sungai Mensiwak Anak atau yang dikatakan sekarang Muara Teweh. Maka setelah sampai disitu orang-orang tersebut berpindah. Muda Dahur dan Muda Layung yang selanjutnya menuju ketempat orang yang bernama UDANG JAWA.
Kemudian muncullah sejarah BERINTUN TUNJUNG dan MUDA LAYUNG, orang-orang terus mudik sungai Mensiwak Anak yang dikatakan sekarang sungai Teweh. Dan lama-kelamaan mereka dalam perjalanan sehingga sampailah di sungai Ruang anak sungai Teweh, yang dikatakan TANJUNG RUANG DATAI LINO. Muda Layung mengatur pembangunan di Datai Lino. Si Beritun Tunjung mengatur pembangunan di Tanjung Ruang. Setelah selesai pembangunan tersebut mereka bersam-sama mengaturkan amail dan peribadatannya. Lalu orang-orang yang diatur tidak tercatat hanya yang diketahui kampung-kampungnya saja, yaitu sebagai berikut :
1. Kampung Tanjung Ruang
2. Kampung Datai Lino
3. Kampung Tendung Jengaan
4. Kampung Tendung Merelemu
5. Kampung Ruang Tunjung
6. Kampung Bungut Layang Olo
7. Kampung Sewai Selai
8. Kampung Walo Oleng Lopo Sie ali Ruran Rere

Sejarah-sejarah yang menguraikan keseluruhannya didalam kampung tersebut ialah :
..............
.............to be continued.....

Silahkan kirimkan saya sumbangan sebagai rasa simpati anda terhadap blog ini ke :
Please send me your sympathy donations as of this blog to:
BRI (Bank Rakyat Indonesia)
Cabang/Branch : 0420 KC JKT Panglima Polim
Nomor rekening/Account Number : 0420-01-004177-50-2
Jakarta - Indonesia
Atas nama/On behalf of Hadi Santosa

LAWANGAN HISTORY PART V

SEJARAH AYUS, INTONG, TIA PELULE

Ketiga orang tersebut telah bertempat tinggal di Kayun Tangi bersama rombongan lainnya. Kemudian mendirikan bangunan, bangunan yang dimaksud ialah tempat ibadah beserta ketentuannya.

Salah seorang dari antara mereka yakni TIA PELULE/USIK SAER LANGIT melanjutkan perjalanan ke arah utara. kemudian kembalilah dia di ujung kampung itu. Orang-orang kampung
tersebut ingin mencari tiang guru untuk tiang tempat ibadah di situ.

Sebenarnya didaerah tersebut tidak ada yang sanggup mengadakan tiang itu selain dari nama Jin saja yang sanggup menyediakan tiang untuk tiang guru itu. Tetapi hanya Jin yang dapat mengadakan tiang itu apabila nilai tiang atau benda yang tersedia setimbang dengan tiang itu.

Maka berkarung-karung mereka mengumpulkan harta emas, intan, perak tetapi masih berat tiang itu.

Mereka memikirkan hal itu, apakah masih ada lagi yang belum dihubungi. Ada satu orang berada diujung kampung yang tidak hadir untuk pendirian tiang. Maka kata TIA PELULE hadir disitu. Kata dia tidak mungkin saya dapat membantu pembelian tiang ini. Sedangkan emas dan intan serta perak berkarung-karung sudah ditimbang, apa lagi saya sakit tapi akan saya usahakan membantu kalian. TIA PELULE hanya memiliki sebuah cincin satu utas saja.
Perkataan si Jin makin mempersulit saja, pikirnya. Maka dicobalah oleh TIA PELULE menimbang cincin tersebut, ternyata berat cincin tersebut lebih berat dari pada tiang guru itu. Langsung dijawab oleh si Jin emas tai palat, emas yang begitu rupa selalu diambil saja dan selalu dilemparkannya ke tengah-tengah lautan.

Kemudian tiang guru itu ditancapkannya di sembarang tempat lalu ditimpaskan ditengahnya oleh Jin.
Setelah terjadi keadaan tersebut, si Jin itu lari pulang dengan kemarahannya. Sehingga orang kampung itu menyerahkan kepercayaan kepada TIA PELULE sampai pembangunan tempat ibadah terlaksana sampai selesai. Bukan diatur dengan tenaganya tetapi diatur oleh kebijaksanaannya.
Tamatlah riwayat TIA PELULE.

Walau ketiga orang itu hidup terpisah, tetapi terpisah dengan baik dan hormat. Berdasarkan itu
sekarang tinggal nama AYUS dan INTONG yang berangkat meninggalkan kampung KAYUN TANGI mudik mensiwah ine menuju ke daerah LENDOK OLENG LUTUNG yaitu yang dikatakan PASAR ARBA BENUA LAWAS dan juga yang dikatakan KAYUN TANGI yaitu BANJARMASIN. Setelah Ayus dan Intong sampai di Lendok Oleng Lutung. Mereka berdua banyak melakukan pembangunan atau bermufakat untuk mengadakan tempat ibadah untuk tempat beramal. Dikarenakan pembangunan tempat ibadah mengalami sedikit keterlambatan maka masyarakat setempat terpaksa pergi beribadah ke tempat lain. Kalau tidak disebabkan hal itu pilihan masyarakat ke Pasar Arba Benua Lawas saja.
Lama kelamaan masyarakat tersebut mengatur amal dan ibadahnya di Lendok Oleng Lutung. Lalu berkatalah si Intong kepada saudaranya si Ayus, kata si Intong "Saya mau mengikuti adik kita si Tia Pelule karena menurut berita dia sudah memeluk Islam, saya mau menemui dia dan saya mau pergi haji ke Mekah Medinah menuruti si Tia Pelule". Setelah si Intong berangkat ke Mekah Medinah maka selamatlah dia didalam perjalanan dan masyarakat tersebut mengikuti jejaknya untuk pergi haji. Setelah pulang dari Mekah Medinah, sampailah dia di daerah Kayun Ganji. Pada waktu perjalanan si Intong ke Kayun Ganji, kapal yang ditumpanginya terbalik diisap oleh pohon Kayun Ganji hanya satu orang yang selamat dan hidup yaitu si Intong. Sadar bahwa hanya dia yang selamat, segeralah dia naik keatas pohon Kayun Ganji. Sesampainya diatas pohon dilihatnya ada seekor burung, yang bernama MANUK BALANG BULAU atau Burung Garuda. Lalu pikir si Intong lebih baik saya berpegang di taji Manuk Balang Bulau ini, biarlah kemana saja ini nanti sampainya dibawa terbang oelh burung itu. Tidak lama kemudian Manuk Balang Bulau ini terbang. Sekian lamanya burung garuda ini terbang turunlah di daerah PADANG MELUKA. Si Manuk Balang Bulau tadi turun disitu dan memangsa seekor lembu lalu dengan sigap si Intong turun dari taji burung garuda ini ke daratan. Berjalanlah dia menyusuri Padang Meluka .Karena si Intong belum tahu arah tujuannya sehingga didalam perjalanan dia menemukan sungai, sungai itu airnya yang sebelah agak keruh dan yang sebelah lagi agak jernih.
"Oh si Intong selalu berkata didalam hatinya, apakah ini yang diceritakan oleh orang-orang tua dahulu yang dimaksud dengan sungai SEREMALIK?". Menurut cerita bila air sungai ini disentuh dengan jari maka jarinya dapat berubah menjadi batu. Dicobalah oleh si Intong menyentuh air sungai itu dengan jarinya pada bagian air yang keruh maka langsung jari si Intong membeku menjadi batu.
Lalu dia meneruskan perjalanannya. Didalam perjalannya sampailah dia pada sebuah kampung, yang bernama kampung TERANTANG BINI.
Setiap laki-laki yang memasuki kampung itu selalu lekas mati karena dikeroyok oleh kaum perempuan penduduk kampung ini. Maka si Intong langsung menemui pimpinan kampung ini, singkat cerita si Intong menikah dengan pimpinan kampung ini. Dengan memakai keahlian yang dia miliki (jari telunjuk kirinya yang telah berubah menjadi batu tersebut). Selamatlah si Intong dalam menjalani perkawinannya. Dan segala hal yang dapat mematikan bagi kaum laki-laki di kampung ini, sejak itu amanlah kampung Terantang Bini. Si Intong beralih namanya menjadi HAJI BATU. Dan kampung Teratang Bini pun berubah namanya menjadi ARPAH. Si Intong menjadi pimpinan di daerah Arpah. Maka tamatlah riwayat si Intong.

dilanjutkan dengan kisah Sejarah Beritun Tunjung, Muda Layung Muda Dahur, Muda Layang

Senin, 10 Oktober 2011

LAWANGAN HISTORY PART IV


SEJARAH KEPERCAYAAN KEHARINGAN LUANGAN

Sejarah Daerah REGAN TATAU MENTELEDOK LOYANG DANUM

Daerah ini terdapat perantaraan KEPALA SUNGAI TALAKE, anak sungai PASIR dan dekat kepala sungai TOYEP anak sungai TABALONG KIWA, serta PEDUSUNAN ini boleh yang terbesar pada jamannya, sebelum adanya RAJA.  

Dikarenakan tempatnya sangat luas maka dengan sendirinya penduduknya menjadi banyak, serta adat dan kepercayaan bercorak ragam, sesuai kepercayaan masing-masing.  

Dengan adanya adat/kepercayaan ini bagi pihak SUKU KEHARINGAN LUANGAN . Masing-masing dipegang oleh :  

a.Adat Istiadat, awalnya dipegang oleh SERUNAI SOONG BUEN (seorang laki-laki) lalu diteruskan oleh KAKAH MANGBULU  

b.Kepercayaan Tuyo Amal, dipegang oleh PUTI SONGKONG(DATU PUTI SONGKONG) yang bergelar APAR BULAU ULING LANGIT

Kepercayaan ini tetap dijalankan sesuai dengan perintah dari LEWIN LANGIT semenjak mereka berpisah dengan LEWIN TANA.

Semenjak adanya Pedusunan REGAN TATAU inilah maka timbul HUKUM , ADAT dan AMAL KEPERCAYAAN yang dibentuk dan diterapkan untuk mengurus segala Hukum dan Adat.

Diangkatlah Mantir-Mantir (Penghulu) untuk meneliti dan memperhatikan keadaan di dalam
kampungnya supaya menangani :

a. Soal adat dan hukum perihal Perkawinan  
b. Soal adat dan hukum perihal Belian-Belian
c. Soal adat dan hukum perihal Kematian

Turunan sejarah
Belian Bawo terdapat dari, yang diteruskan oleh laki-laki yakni dari nama NALAU
bergelar MA SUMPING NGOYAU BAWO sedangkan belian perempuan SENSI NE SENSAN.
Diteruskan oleh muridnya bernama TOJE TAMUN TELEW.

Kepercayaan Hindu Keharingan Luangan dibawakan oleh DATU SONGKONG yang bergelar APAR BULAU ULING LANGIT. Sesuai dengan perintah LEWIN LANGIT sejak perpisahan mereka setelah terjadinya langit dan bumi, semenjak itu  DATU PUTI SONGKONG meneruskan ajaran-ajaran kepercayaan Hindu Keharingan Luangan dan selanjutnya ajaran kepercayaan ini diteruskan oleh AYUS, INTONG dan TIA PELULE.
Memperhatikan bahwa pedusunan REGAN TATAU telah maju lalu mereka membawa ajaran dan kepercayaannya ke daerah KAYUNTANGI oleh AYUS, INTONG dan TIA PELULE beserta rombongannya. Kemudian mereka mengadakan pembangunan dan langgar  amalnya.
TIA PELULE meneruskan perjalanannya.
Kemudian KAKAH UKOP menyusul mereka dari daerah REGAN TATAU, dan terus bertempat tinggal ke daerah PASIR KENILO wilayah Kalimantan Timur, dan dari situlah  dia ingin mencari dimana letak sebenarnya pinggir dunia, maka berangkatlah dengan memakai WETA atau BENAWA LAYAR.
Selama melakukan perjalanan, sering mengalami masalah yakni telah delapan kali mengganti dan memotong tiang layarnya. Makin jauh perjalanan makin sempit jarak antara langit dan permukaan air laut, ternyata sampailah Kakah Ukop pada suatu daratan dimana terlihat olehnya jejeran Tihang Langit dan melintanglah Pinggir Dunia. Dalam bahasa Luangan : PALIT JEREJEK LANGIT-PETENG BENTURAN TANA. 
Kakah Ukop dalam perjalanannya ditemani oleh saudara kandungnya yakni adiknya. Karena kuasa Sang Kuasa ALLAH TA'ALLA maka naiklah Kakah Ukop ke daratan tapi adiknya tetap tinggal dalam Benawa. Nama adik Kakah Ukop adalah si USING.
Tetapi sial bagi Kakah Ukop ketika dia membatalkan niatnya untuk naik kedaratan lalu memanggil adiknya akan tetapi  yang dipanggil tidak menyahut maka menolehlah Kakah Ukop kebelakang Benawa ternyata adiknya tidak berada ditempat.
Menolehlah dia keatas, ternyata adiknya sedang bermain-main dengan orang-orang disebelah tihang-tihang. Lalu Kakah ukop mengambil tindakan untuk naik kedaratan agar dapat mengambil dan meminta adiknya.
Karena kekuasaan Yang Maha Kuasa Allah Ta’alla maka adiknya diserahkan kepada orang yang ada disebelah tihang langit tadi, ternyata adiknya sudah tidak bergerak dan bernapas.
Kakah Ukop bangkit amarahnya dan mohon adiknya dikembalikannya, maka setelah diterima oleh orang dari sebelah ternyata bisa lagi bermain dan hidup seperti semula.

Maka melihat hal demikian, dipintanya lagi adiknya mengingat dia ingin kembali ke tempat semula, maka diberikan oleh orang kembali adiknya tenyata keadaan tetap seperti semula lagi atau tidak bernapas maupun bergerak, kejadian telah berulang kali maka ada selentingan suara dari dalam yang mengatakan bahwa adikmu tinggal saja dengan kami, dan ambillah barang ini sebagai pengganti jiwa adikmu.
Maka Kakah Ukop lama berpikir, dibawa adiknya tapi tetap tidak berdaya, jadi keputusannya diambilnya barang berupa peti besi segi empat itu dan adiknya diberikan kepada mereka.
Setelah peti besi itu diterima oleh Kakah Ukop, berpesanlah orang dari sebelah dan mengatakan kepada dia, peti ini jangan dibuka olehmu sebelum sampai ke tempatmu.
Dengan perasaan sangat cemas Kakah Ukop kembali dengan alat-alat yang dibawanya, disertai tanda tanya memenuhi pikirannya, apa yang sebenarnya didalam peti besi ini.
Lama-kelamaan sampailah dia pada daratan, entah dimana Kakah Ukop masih belum mengetahui dengan jelas, bangkitlah dia dengan membawa peti besi itu beserta gong. Dalam keadaan yang sangat letih, beristirahatlah dia untuk melepas lelah lalu teringatlah dia akan peti besi itu tetapi lupa akan isi pesan dari orang yang memberikannya, karena menurut perasaan Kakah Ukop, dia telah sampai ke tempat asalnya maka peti besi itu dibuka ternyata keluarlah berduyun-duyun bercorak ragam manusia dari dalamnya. Dia meneliti tempat itu ternyata masih belum sampai pada tempat asalnya. Langsung peti itu ditutup kembali dan meneruskan perjalanan menuju daerah Pasir Kenilo. Nama tempat dimana Kakah Ukop membuka peti itu adalah KAYUN TANGI.
Setelah sampai di daerah Pasir Kenilo, dicobanya membuka peti besi itu tetapi tidak dapat dibuka sama sekali. Karena usaha membuka peti besi itu tidak berhasil maka Kakah Ukop menyumpah, yang isi sumpahnya dikatakan bahwa orang dari daerah Kayun Tangi boleh berusaha atau bermata pencaharian di daerah Pasir Kenilo tapi tidak boleh membawa pulang hasilnya yang artinya habis dimakan ditempat berusaha itu sendiri sebab daerah Kayun Tangi sudah cukup banyak orangnya.
Pada akhirnya Kakah Ukop menjadi raja di daerah Pasir Kenilo, kemudian Kakah Ukop menanam kayu di gunung. Antara pohon kayu itu ternyata hanya ada satu pohon. Sehingga kayu tersebut menjadi dua warna daunnya, yang sebelah agak kecil daunnya dan yang sebelah daunnya agak besar.
Demikian sejarahnya orang yang berusaha ke daerah Samarinda tidak menjadi berhasil dengan utuh.
Itulah sejarah dan kisahnya, tamatlah riwayat Kakah Ukop. 

dilanjutkan dengan SEJARAH AYUS, INTONG DAN TIA PELULE

LAWANGAN HISTORY PART III


ORANG LUANGAN/ LAWANGAN PADA ZAMAN NABI NUH 

Pada waktu itu disebutkan Bentar Ruang Opat(sesanggan/wadah dari bahan kuningan) dan Mansi Bura Lumah (mangkok putih dan piring putih); kode iro naan URAN WALO OLO WALO MALEM = hujan delapan hari delapan malam kode iro dinaan na utus Owa
Langit., maka nabi Nuh mempunyai BENAWA = BAHTERA untuk dipakai oleh orang-orang yang mengikuti dia sampai tertinggal di Gunung Sinai. Maka perahu kepunyaan orang Luangan mengikuti banawa nabi Nuh atau mengikuti perahu si SOONG ANJANG TIONG MANARUNG TELANG BULAU, Kemudian kode iro Bawu Buyung hanya ketore kojie lutuk bawui lembu, leko iro dali balalu mengadakan Balian KASARUNG JATUH, supaya DANUN LAYAP LANGIT = kebanjiran sampai ke langit menjadi surut.
Para Balian ini terdiri dari 4 orang bersaudara, Iyu na kepalai enu dali opat manni aran dali :
1. SOONG ANJANG TIONG
2. NGERANG TIMANG 
3. NGAYUN BUEN
4. SOANG NYALIR LANGIT 
Karena ”hujan delapan hari delapan malam” belum juga surut maka dilakukanlah BALIAN oleh 4 orang saudara ini tetapi air belum juga surut-surut dan langit belum juga terangkat lalu datanglah seorang lelaki bernama NALAU KAYUN KULANG nama lainnya MA’ SUMPING NGUNJAU BAWE ULEK DA BELUH katanya aka kam hanya Baliana a da iro sulet ke Lengun Langit suba kam ngenu Bentar Ruang Opat enu kam ali Kumpai wai ali Bungu rio Mupun eyu berbentuk Bura Lemit Mea Metum dan Jereu sebab iro di Danum tau takui langit tau baluwas leka tangku langit iro ege da luyang Danum Pentuer Danum iro ege da Jawan ulu iro naan na ulek Owa Langit kelem dali ngenu kawan iye na ulek iro dehtai biru. Balalu Jawan Ulu tangkeng Toto Loyang Danum tandong toneng toto bungu rio mumpun Njanteau kumpai owai leka orot nenung iro tongkou langit terou lapas daluyang Danum Pentuer danum toro lapas da Jawan Olu leka iro danum surut langit mengkat magin mongkat sehingga langit dan tanah kembali seperti semula, itulah kisah sejarah=Sentume Sepuri “kebanjiran sampai ke langit dan  Balian” 

Setelah air surut,perahu orang Luangan bersandar di beberapa tempat, yang ada buktinya perahu kepunyaan orang Luangan ini di BAWO KINSO atau di hulu sungai TABALONG KIWA. Orang-orang Luangan pada waktu itu ada juga yang memakai PARING BATUNG TEMIANG yang tertinggal di Gunung LANSI di daerah KOTAM kecamatan POTANGKEP TUTUI. 

Kemudian 4 orang saudara tersebut membentuk 8 buah kampung, selalu menuturkan kisah diatas secara lisan disalurkan terus menerus, sambung menyambung dari mulut ke mulut. Dan mulai hidup berkelompok serta melakukan kegiatan beramal atau beribadat di TANJUNG RUANG DATAI LINO. Mereka berkembang sehingga memiliki banyak corak dan ragam sampai berakhirnya riwayat daerah itu.

Kemudian tumbuh kelompok masyarakat di daerah terusan BENTAS BULAU (Dusun Tengah-Ampah), mereka kembali melakukan kegiatan
beramal atau beribadat dan membangun Langgar Tuyo Amal agama Hindu Keharingan Luangan. Kegiatan mereka dipimpin oleh yang bernama Kakah Tena selaku penyambung dan penyalur dari nama Mangendang, dikarenakan sesuatu hal menimpa masyarakat
ini maka pindahlah mereka ke daerah  SARAP RUANG di lembah Gunung Kesali. Di situlah mereka kembali melakukan kegiatan
beramal dan beribadat. Kepemimpinan dari Kakah Tena diteruskan oleh keturunannya, seorang perempuan bernama Nerin Bulau. Kelompok masyarakat ini berakhir riwayatnya di LIANG AYAH (Dusun Tengah-Ampah).

Kemudian penerus Kakah Tena membangun kembali kelompok masyarakatnya serta kegiatan beramal dan beribadat, ditumbuhlah di
daerah Kalimantan Timur, di wilayah sungai Kenesi. Kelompok masyarakat ini dipimpin oleh Temanggung Mangunsi pada masa raja-raja/sultan-sultan, sampai berakhir riwayatnya di daerah KENESI.

Kemudian tumbuh lagi di daerah LOPO (wilayah Barito Utara-sungai Muara Teweh), kelompok masyarakat penyambung dari Temanggung
Mangunsi. Mereka dipimpin oleh Ma Nampui sebagai pelaksana Tuyo Amal agama Hindu Keharingan Luangan. Sampai berakhir riwayatnya di daerah ini.

Kemudian tumbuh lagi di daerah MUARA UON anak sungai LUANG (daerah Gunung Purei) yang dipimpin oleh Mayan dengan nama gelar
Ma Asin....

Kemudian tumbuh lagi di daerah TURAN REKET (Dusun Tengah-desa Rodok) dipimpin oleh Lena dengan nama gelar Ma Belusuh di sungai
Gerunggung, anak sungai Tuyau Lelai Ue.....

Kemudian tumbuh lagi di daerah TUYAU (anak desa Rodok) dipimpin oleh Rintis dengan nama gelar Ma Kea........

Kemudian tumbuh lagi di daerah MISIM BENIAN (Dambung Doroi-Dusun Tengah-Ampah) dipimpin oleh Jamban dengan nama gelar Ma Tajur.......

Kemudian tumbuh lagi di desa Rodok dipimpin oleh Reras bin Isal.

dilanjutkan dengan kisah SEJARAH KEPERCAYAAN HINDU KEHARINGAN LUANGAN