kata-kata mutiara

Presiden Soekarno mengatakan :
"Jangan sekali-kali melupakan sejarah!"
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya"

Presiden John Fitzgerald Kennedy mengatakan :
"Jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu."

Senin, 25 Agustus 2008

NANSARUNAI USAK JAWA

syair pertama

Nansarunai takam rome usak Jawa
Ngamang talam takam lulun unggah Gurun

Nansarunai takam galis kuta apui
Ngamang talam takam jarah sia tutung

Nansarunai takam wadik jari danau
Ngamang talam takam wandui janang luyu

Hang manguntur takam galis em'me angang
Kuda langun takam jarah mangalongkong

Suni sowong kala tumpuk tanan olun
Wayo wotak alang gumi Punei Lului

syair kedua

Batang Nyi'ai ka'i hawi tamurayo
Telang nyilu ne'o jaku taleng uan

Anak nanyo ka'i hawi nganyak kaleh
Bunsu lungai ne'o jaku ngisor runsa

Ngunu ngugah pasong teka watang tenga
Hamen bingkang kilit iwo pakun monok

Muru pitip Nansarunai ngunu hulet mengalungkung
Ngamang talam takam tantau nuruk nungkai

Hang manguntur takam kala harek jatuh
Kudalangun takam alang rakeh riwo

Hang manguntur takam kala buka payung
Kudalangun takam alang bangun tang'ngui

Jam'mu ahung takam kawan rum'ung rama
Luwai hewo padu ipah bawai wahai

Balai Adat Jadi Lambang Persaudaraan Orang Maanyan, Banjar dan Madagaskar

Sebuah Mesjid kuno berusia hampir lima abad saat ini masih berdiri dengan tegar di kawasan Pasar Arba, ibukota Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan atau berjarak 16 km dari kota Amuntai.
Mesjid itu didirikan tahun 1528, oleh seorang Mubalig suku Dayak Maanyan bernama Labai Lamiah. Ia berasal dari daerah Martapura yang telah mendapat kursus kilat tentang agama Islam.
Bangunan itu berbentuk joglo, sebab sewaktu mendirikannya Labai Lamiah mendapat petunjuk dari para ulama asal Demak, Banten dan Aceh.
Ulama-ulama itu rupanya datang bersamaan berkenaan dengan kemenangan Pangeran Samudera melawan pamannya Raden Datu Tumenggung hari Rabu 24 September 1526, di Jengah Besar tidak jauh dari kota Banjarmasin sekarang.
Menurut penduduk setempat dan penuturan orang-orang Maanyan, serta dari generasi ke generasi berikutnya, dahulu disana pernah berdiri sebuah kerajaan orang Maanyan.
Raja dan rakyatnya, masih percaya terhadap roh para leluhur dan kerjaan itu mereka namakan Nansarunai. Dinamakan Nansarunai, sebab rakyatnya gemar menari dan menyanyi dengan iringan alat musik yang dominan, berupa suling berlobang tujuh buah yang dinamakan serunai.
Dalam lafal orang Maanyan menjadi Sarunai. Sedangkan kata Nan mungkin berasal dari bahasa Melayu, berarti yang. Sehingga Nansarunai , berarti sebuah kerajaan dimana raja dan rakyatnya yang gemar bermain musik. Kerajaan berdiri pada tahun 1309 dengan raja pertama Raden Japutra Layar.
Selain bermain musik tari dan nyanyi, mereka juga gemasa main sepak takrau, pesta adat dan mengadu ayam jago. Ayam jago diadu dalam sebuah kandang berukuran 3 kali 3 depa yang disebut Manguntur, bertempat di sebuah lapangan terbuka.
Manguntur itu bisa dibangun beberapa buah, agar suasana menjadi lebih meriah, terutama kalau salah satu dari dua ayam jago aduan itu mendapat kemenangan.
Sebelum diadu kedua ayam jago itu dipersenjatai lebih dahulu dengan sebuah pisau kecil yang disebut taji. Orang Maanyan kuno, mengetahui tuah tiap-tiap ayam jago aduan, dari jenis warna bulu-bulunya. Misalnya jenis Lahe, Wido, Biring dan sebagainya, masing-masing membawa tuah sendiri-sendiri.
Raja menempati rumah yang disebelah kanan kirinya diberi ruangan disebut Anyu'ng. Sedangkan untuk pesta adat ada sebuah balai adat yang disebut Jaro Pirarahan.
Kehidupan rakyatnya makmur, disebabkan mereka mengadakan perdagangan sampai ke Indragiri, Majapahit, Sulawesi Selatan dan bahkan Madagaskar.
Barang dagangan yang mereka bawa keluar antara lain kayu besi, getah, damar, rotan, madu lebah hutan dan lain-lain. Ada juga pedagang dari luar yang datang ke Nansarunai seperti saudagar keliling dari daerah Kediri di Majapahit. Pedagang-pedagang keliling inilah yang melaporkan ke Majaphit bahwa ada sebuah kerajaan di pedalaman aliran sungai Tabalong, dimana rakyatnya bersifat riang suka bermain musik, tari dan nyanyi. Waktu itu komposisi ethnis di Kalimantan Tenggara terdiri dari Maanyan, Lawangan, Bukit dan Bakumpai.

Menyamar
Tahun 1350, Laksamana Nala mengadakan ekspedisi ke Nansarunai dengan menyamar sebagai nahkoda kapal dagang. Di Nansarunai ia memakai nama samaran Tuan Penayar dan bertemu dengan Raja Raden Anyan, bergelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas, serta Ratu Dara Gangsa Tulen.
Laksaman Nala sangat kagum melihat begitu banyak barang-barang terbuat dari emas murni, ketika ia dipersilahkan untuk melihat-lihat perlengkapan pesta adat di ruangan tempat bermusyawarah. Yang sangat dikagumi oleh Laksamana Nala, ialah sokoguru balai adat yang terbuat dari emas murni juga dimana dibagian atasnya bermotif patung manusia.
Setelah kembali ke Majapahit, Laksamana Nala berpendapat, untuk menundukkan Nansarunai, harus dicari kelemahan Raja Raden Anyan yang mempunyai kharisma kuat. Pada pelayanan berikutnya, Laksamana Nala membawa serta seorang panglima perangnya yang bernama Demang Wiraja dengan memakai nama samaran Tuan Andringau, serta beberapa prajurit dari suku Kalang. Hasil pengamatan Demang Wiraja dilaporkan kepada Laksamana Nala.
Demikianlah pada awal tahun 1356, Laksamna Nala datang lagi ke Nansarunai dengan membawa serta istrinya bernama Damayanti. Sewaktu kembali ke Majapahit, sengaja Laksamana Nala membiarkankan isterinya tinggal di Nansarunai. Damayanti berwajah sangat cantik dan pribadinya menarik.
Pada tahun 1356 itu, terjadi kemarau panjang, sehingga Raja Raden Anyan secara kebetulan bertemu dengan Damayanti di sumur yang khusus diperuntukkan bagi anggota keluarga kerajaan. Pertemuan pertama berlanjut dengan kedua dan demikian seterusnya, sehingga Damayanti melahirkan seorang anak perempuan, lau diberi nama Sekar Mekar.
Pada awal tahun 1358, Laksamana Nala datang ke Nansarunai dan menemukan isterinya sedang menimang seorang anak perempuan. Damayanti yang memakai nama samaran Samoni Batu, menerangkan bahwa anak yang ada dipangkuaanya itu adalah anak anak mereka berdua. Dan Laksamana Nala percaya saja akan apa yang telah dikatakan oleh isterinya itu.
Ketika kembali ke Majapahit, Damayanti beserta anaknya dibawa serta, alau tinggal dipangkalan aramada laut Majapahit di Tuban. Beberapa bulan kemudian, Laksamana Nala secara kebetulan mendengar isterinya bersenandung untuk menidurkan puterinya dimana syair-syairnya menyebutkan bahwa Sekar Mekar mempunyai ayah yang sebenarnya ialah Raja Raden Anyan.
Bulan April 1358, datanglah prajurit-prajurit Majapahit, dibawah pimpinan Laksamana Nala dan Demang Wiraja menyerang Nansarunai. Mereka membakar apa saja termasuk kapal-kapal yang ada di pelabuhan dan rumah-rumah penduduk. Serangan itu mendapat perlawanan gigih prajurit-prajurit Nansarunai walaupun mereka kurang terlatih.
Menurut cerita, Ratu Dara Gangsa Tulen bersembunyi dipelepah kelapa gading bersenjata pisau dari besi kuning, bernama Lading Lansar Kuning. Ia banyak menimbulkan korban pada pihak musuh sebelum ia sendiri gugur.
Raja Raden Anyan dalam keadaan terdesak lalu disembunyikan oleh para Patih dan Uria kedalam sebuah sumur tua yang sudah tidak berair lagi. Diatas kepalanya ditutup dengan sembilan buah gong besar, kemudian dirapikan dengan tanah dan rerumputan, agar tidak mudah diketahui musuh.
Ketika keadaan sudah bisa dikuasai oleh pihak Majapahit, Laksamana Nala memerintahkan Demang Wiraja untuk mencari Raden Anyan hidup atau mati. Atas petunjuk prajurit-prajurit suku Kalang yang terkenal mempunyai indera yang tajam, tempat persembunyian Raja Raden Anyan akhirnya dapat ditemukan.
Raja Raden Anyan tewas kena tumbak Laksamana Nala dengan lembing bertangkai panjang. Peristiwa hancurnya Nansarunai dalam perang tahun 1358 itu, terkenal dalam sejarah lisan suku Dayak Maanyan yang mereka sebut Nansarunai Usak Jawa.
Dalam perang itu telah gugur pula seorang nahkoda kapal dagang Nansarunai yang terkenal berani mengarungi lautan luas bernama Jumulaha. Ia banyak bergaul dan bersahabat dengan pelaut-pelaut asal Bugis dan Bajau. Untuk mengenang persahabatan itu, maka puterinya yang lahir ketika ditinggalkan sedang berlayar, diberi nama berbau Bugis yaitu La Isomena.

Unsur Besi
Prajurit-prajurit Majaphit yang gugur dalam perang tahun 1358 itu, diperabukan berikut persenjattan yang mereka miliki, didekat sungai Tabalong yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan Tambak-Wasi. Tambak arti kuburan dan Wasi artinya besi dalam bahasa Maanyan kuno. Sehingga Tambak-Wasi artinya adalah kuburan yang mengandung unsur besi.
Pendiri kerajaan Nansarunai adalah Raden Japutra Layar yang memerintah dari tahun 1309-1329 dilanjutkan Raden Neno 1329-1349 dan yang terkahir Raden Anyan 1349-1358. Gelas raden hanya khusus untuk raja, sedangkan para bangsawan lainnya memakai gelas patih, uria, damo;ng, pating'i, datu dan sebaginya. Gelar raden itu berasal dari Majapahit, karena Japutra Layar sebelum menjadi raja adalah seorang pedagang yang sering bergaul dengan para bangsawan Majapahit.
Ketika penyebaran agama Islam sampai ke Pasar Arba yang dipimpin oleh Labai Lamiah beserta para ulama sal Demak, Banten dan Aceh dalam tahun 1528, balai adat yang semula dihancurkan oleh Laksamana Nala dalam atahun 1358, sudah dibangun kembali dan dipergunakan untuk upacara adat Hindu Kaharingan pada zaman Majapahit berkuasa disana.
Setelah kedatangan agama Islam, balai adat itu dirobah fungsinya menjadi mesjid, dengan atap bertipe joglo.
Mesjid itu mempunyai luas sekitar 200m2, dilengkapidengan serambi keliling selebar 3m dan dapat menampung sekitar 400 jemaah. Tiang-tiang mesjid diambil dari bekas tiang balai adat dari kayu besar berdiameter 40 cm dan masih tidak keropos sampai sekarang.
Kayu besi memang banyak terdapat di Kalimantan . Di kota Banjarmasin saja harganya mencapai Rp 650 tiap kg.
Karena letak mesjid itu pada bekas balai adat ketika zaman kerajaan Nansarunai, sehingga mesjid tersebut juga menjadi lambang persaudaraan orang Maanyan, Banjar dan Merina di Madagaskar.
Orang Merina kalau sembahyang selau kiblatnya menghadap ke arah timur laut yang mereka sebut Anjoro Firarazana, berasal dari kata Maanyan Hang Jaro Pirarahan, yaitu nama balai adat di Nansarunai dahulu.
Mesjid itu telah beberapa kali direhabilitasi, terutama dindingnya yang terbuat dari kayu borneo. Sewaktu diadakan rehabilitasi tahun 1975, barng-barang kuno sisa-sisa peralatan pesta agama Hindu Kaharingan yang semula diletakkan di loteng mesjid, dipindahkan ke tempat lain oleh orang-orang yang masih berbahasa Maanyan.
Barang-barang itu antar lain, piring celedon, kain Sindai, kenong, gong, boli-boli, guci tempat pengawetan daging atau ikan secara Maanyan yang disebut wadi, gendang berbadan panjangyang disebut Katamo'ng dan lain sebagainya.

Tasawuf
Untuk menarik orang Hindu agar cepat menerima agama Islam, oleh para ulama Demak, Banten dan Aceh diajarkan juga ilmu tasawuf selain mengajarkan agama Islam yang memang menjadi tujuan mereka. Ilmu Tasawuf itu kadang-kadang di luar daya tampung akal, tetapi dapat diterima oleh masyarakat setempat. Mesjid tua itu kini masih dipakai untuk berjamaah pada tiap-tiap hari Jumat.
Meskipun begitu, masih ada anggota masyarakat yang belum lepas dari kepercayaan masa lampau. Mereka membawa sesajen berupa kue apam yang didoakan di dalam mesjid, sebelum dimakan bersama para pengunjung lainnya. Sesajen itu dilengkapi juga dengan bunga yang berbau harum semerbak, disangkutkan pada tiang-tiang penopang atap mesjid, bekas tiang sokoguru balai adat masa lampau dan misrab mesjid.

selesai

Orang Merina Madagaskar di Afrika Berasal dari Suku Dayak atau Bugis

Menarik untuk disimak bila orang Merina di Madagaskar yang terletak di lepas pantai Afrika Timur sebenarnya berasal dari suku Konjo, anak suku Bugis di Sulsel atau berasal dari suku Dayak di Kalimantan Tenggara. Tulisan di Suara Pembaruan terbitan 4 Agustus 1991 lalu yang mengungkapkan masalah tersebut patut dijadikan bahan renungan sejarah.
Prof. TA Razanadriaka seorang intelektual Merina datang ke Indonesia tahun 1989 yang lalu, dan telah mengadakan temu muka dengan orang Dayak Maanyan di Barito Timur, Kalteng.
Ia berpendapat semua unsur-unsur Melayu yang terdapat di Madagaskar, menurun dari penduduk asli di daerah Kalimantan tenggara sekarang. Mereka mungkin sampai dibagian barat Samudera Indonesia di sekitar permulaan tahun Masehi. Sedangkan pelau-pelaut Melayu seudah lama bergaul di bagian utara samudera tersebut.
Waktu itu pulau Madagaskar belum dihuni oleh manusia dan penduduk di pantai Afrika bagian timur masih sama dengan Khoi-san di Afrika Selatan sekarang yang sangat berbeda dari orang Negro Bantu sebenarnya.
Berkat penyebaran tumbuh-tumbuhan dari Asia Tenggara seperti pisang, mangga, kelapa, keladi dan terutama ubi asli menjadi makanan pokok.
Orang Bantu yang berasal dari Afrika bagian barat cepat berkembang dan berhasil mencapai pantai timur benua tersebut pada abad-abad pertama sesudah masehi. Mengenai sejarah orang Nusantara sapai abad ke-10 masih gelap bagi kita.
Bagaimana hubungan antara orang Madagaskar dan orang Melayu selama periode itu? Apakah masih terus ada hubungan antara orang Madagaskar dan daerah leluhur mereka di Indonesia? Sampai kapan? Sayang sekali data yang bisa terdapat di Madagaskar sampai kini belum ada.
"jadi menurut saya, tidak perlu kita menduga bahwa komposisi ethnis orang Merina (dan begitu pada pokoknya warisan Nusantara lain yang terdapat di seluruh Madagaskar) mengandung unsur-unsur dari berbagai daerah di Indonesia" kata Prof. Razanadriaka.
Nenek moyang mereka mungkin berasal dari Kalimantan Tenggara saja dan beberapa campuran dengan suku-suku pelaut Nusantara lain seperti Bajau, Bugis, atau Jawa.
"Di daerah pantai Kalimantan Tenggara pada zaman sekarang, komposisi ethnis penduduk tidak berbeda. Justru, mengenai hal itu menurut kesan saya, rupa luar orang Merina tidak dapat dibedakan dengan rupa orang Banjar atau Bugis' ujar Prof. Razanadriaka.
Orang Merina dapat dibenarkan berasal dari Indonesia oleh kata dasar bahasa mereka 45% sama dengan kata dasar bahasa Dayak Maanyan. Tetapi mereka juga juga sama seperti orang Bugis karena berani mengarungi lautan luas. Mungkin sewaktu orang dayak masih sebagai bangsa bahari pernah bersahabat dengan pelaut-pelaut Bugis dan Bajau karena budaya kedua suku tersebut ada persamaannya dengan budaya suku Dayak Maanyan. Misalnya ada sepak takrau, memberi sesajen kepada para roh leluhur atau dewa dengan beberapa kepalan nasi dilengkapi dengan lauk-pauk serta ilmu mistik untuk menentukan mujur atau tidaknya suatu perjalanan atau keberuntungan yang masih terdapat pada suku Dayak Maanyan yang beragama Hindu Kaharingan disebut dengan bilangan Bajau.
Sisa-sisa jiwa bahari orang Dayak Maanyan sebagai salah satu unsur suku Banjar masih terdapat pada perahu-perahu atau kapal yang melayari sungai Barito dan Tabalong sesudah mereka mundur sejak pertengahan abad ke-14.
Pusat Pembuatan perahu atau kapal sungai itu terdapat di desa Negara, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan Propinsi Kalsel.

Agama Hindu
Suku Dayak Maanyan saat ini terpusat di daerah Barito Timur Kalteng dan sebagian masih menganut Agama Hindu Kaharingan sebagai bagian dari Hindu Dharma.
Agama Hindu Dharma yang dianut oleh suku Dayak maanyan terdiri atas dua golongan, yaitu yang membakar sisa tulang belulang setelah lebih dahulu ditanam disebut ijambe. Lokasi tempat mereka terdapat di desa Siong, Telang, Murutowo dan Balawa dengan jumlah pengikut sekitar 5.000 orang.
Golongan kedua cukup hanya dengan mengadakan pemakaman biasa, tetapi diikuti oleh upacara kematian yang disebut Pakan-Hanrueh, Miya dan Ngadaton dengan jumlah penganut sekitar 15.000 orang. Meskipunmereka beragama hindu, tetapi cara berpakaian sama dengan orang-orang Melayu.
Yang laki-laki memakai celana, kadang-kadang bersarung, memakai peci hitam dan baju biasa. yang perempuan memakai kain, baju kebaya dan tutup kepaladari kain panjang disebut tatopong. Kehidupan sehari-hari mereka sama dengan warga lain yang beragama Islam maupun Kristen.
Suku Dayak Maanyan yang menganut agama Kristen sudah tidak lagi memakai tat cara adat sebagaimana dalam Hindu Dharma, karena mereka sudah memakai kaidah agama tersebut dalam melakukan ibadahnya. Perbedaan baru kelihatan dalam upacara adat, antara lain, Ijambe, Bontang dan Mubur-Walenon.
Penganut Hindu Dharma membakar tulang belulang dalam upacara Ijambe yang diharuskan oleh agama. Mereka percaya roh orang yang telah meninggal dianggap masih belum sempurna untuk masuk surga, kalau tulang-belulangnya belum disucikan dengan mengadakan upacara Ijambe.
Peristiwa langka pernah terjadi pada pertengahan abad ke -17, sewaktu Ijambe di desa Balawa. Dua buah tengkorak suami-isteri yang sedang dibakar ditempat pembakaran yang disebut Papuyan terlempat keluar. Setelah dimasukkan kembali pada nyala api hingga tujuh kali, namun tengkorak itu selalu terlempar keluar. Maka kedua tengkorak itu disimpan sebagai benda keramat dan menjadi Nanyu Saniyang adalah roh pelindung warga desa dari serangan musuh, wabah penyakit dan lain-lain.
Kedua tengkorak yang menjadi Nanyu Saniyang itu dari Datu Janggot Mariang dan isteri disimpan di desa Ipo-Mea 24 km dari Tamiang Layang di Barito Timur.
Adik Datu Janggot Mariang berkuasa di daerah lain dan sampai meninggal tetap memakai sanggul. ia dimakamkan dengan cara Islam di desa Tatakan, 15 km sebelum kota Rantau Kalsel. Nama Datu Sanggul diabadikan menjadi nama sebuah Rumah Sakit di kota Rantau.

Mimpi
Karena tidak diadakan pembakaran tulang belulang pada penganut Hindu Kaharingan di daerah Kampung Sepuluh dan Banua Lima, maka kalau ada roh yang turun menjadi Nanyu Saniyang katanya datang lewat mimpi. Kalau turun ke dalam rumah akan berwujud batu sebesar bola tennis dan biasanya terdapat dalam guci tempat penyimpanan beras dan lalu dinamakan Nanyu Pangintuhu.
Dan kalau turun di pohon kayu disebut Nanyu Panungkolan. Penganut Hindu Kaharingan di daerah Kampung Sepuluh dan Banua Lima menganggap tempat roh di surga terdiri dari tiga bagian. kalau diadakan upacara kematian Pakan-Hanrueh, maka roh yang bersangkutan akan menempati daerah pinggiran, Miya akan menempati daerah tengah dan Ngadaton akan menempati pusat surga dimana rumahnya bertirai emas dan berlian.
Pesta adat Bontang mempunyai dua tujuan.
Pertama, untuk mensucikan roh yang akan masuk surga, setelah tiga tahun berturut-turut diberi sesajen yang disebut Nuang-Panok.
Upacara Bontang cukup satu malam dengan mengorbankan beberapa ekor ayam dan disebut Bontang Siwah. Bisa juga sampai tiga malam berturut-turut, namun hewan korban ditambah dengan seekor kambing. bila pihak keluarga menghendaki dibuat Belontang, hewan korban selain ayam dan kambing juga ditambah dengan seekor kerbau.
Belontang merupakan simbul si mati yang terbuat dari kayu besi. Pesta dilaksanakan selama lima hari berturut-turut dan sebagi puncak acara ketika menumbak kerbau yang diikat dengan tali rotan di Belontang.
Selain Belontang dibuat juga Lewu-Hiyang, tempat menaruh sesajen kepada para roh leluhur yang turun dari surga sewaktu diadakan pesta adat itu. kedua patung tadi menghadap ke barat untuk tanda bahwa pesta adat Bontang dilaksanakan untuk mensucikan roh orang yang meninggal.
Kedua, pesta Bontang untuk syukuran yang diadakan oleh seorang atau beberapa warga desa yang merasa hasil panennya melimpah.
kalau dilaksanakan sampai lima hari berturut-turut, maka upacara Belontang dan Lewu-Hiyang menghadap ke timur, sebagai tanda bahwa pesta adat itu khusus untuk syukuran.
selain upacara Ijambe dan Bontang ada lagi upacara adat untuk memandikan anak pertama kali di sungai setelah berusia satu tahun, yang disebut Mubur-Walenon. Upacara ini dimaksudkan agar Dewa Air yang dinamakan Jiwata jangan mengganggu anak itu bila sudah besar nanti, karena sudah diberi ganti jiwa anak itu dengan sesajen sewaktu diadakan pesta adat Mubur-Walenon.
Bagaimanapun aneka macam upacara keagamaan dan pesta adat dikalangan penganut Hindu Dharma, tetapi semua itu merupakan warna-warni kerukunan beragama di negara Pancasila ini.

selesai

Minggu, 24 Agustus 2008

HUBUNGAN RAJA-RAJA BANJAR DAN PENGETUA KAMPUNG JAAR-SANGGARWASI

BANJAR – TANJUNG NEGARA

1.

Raja Raden Pangeran Putera

1350-1365

2.

Raja Sekar Sunsang (Raden Panji)

Miharaja Sari Babunangan Unro

1365-1380

3.

Raja Raden Sukarma

1380-1450

4.

Raja Raden Manteri

(Ayahanda Sultan Suriansyah)

1450-1489

5.

Raja Raden Datok Tumanggung

(Adikanda Raden Manteri)

1489-1526

-Habis Raja-Raja Dinasti Hindu Syiwa-

(sesudah Invansi 40.000 Pasukan Demak)

6.

Sultan Suriansyah

(Mata Habang ; Panembahan Batu Habang)

Ayahanda Puteri Mayang Sari dengan Puteri Nurhayati)

1526-1612

7.

Sultan Innayatullah

(Putera Suriansyah dengan Ratu Intan)

(ekspedisi Dagang Belanda I)

1612-1625

8.

Sultan Rachmatullah

(Putera Suriansyah Dengan Ratu Intan)

1625-1643

9.

Sultan Hidayatullah

(Ekspedisi Dagang Belanda II)

1643-1650

10.

Sultan Mustainnubillah

(Gusti Kancil)

1650-1660

11.

Sultan Pangeran Ratu

1660-1663

12.

Sultan Surianata

1663-1734

13.

Sultan Tamidillah

1734-1778

14.

Sultan Tamidillah

1778-1786

15.

Sultan Nata Kusuma

(Belanda Mulai Menanam Kolonialisme di Kalimantan)

1786-1807

16.

Sultan Sulaiman

1807-1824

17.

Sultan Adam

1824-1857

18.

Sultan Tamijidillah Prabu Anom

1857-1859

-Dekrit 11-6-1860 Penghapusan Kerajaan Banjar oleh Belanda-
(Habis Dinasti Raja-Raja Banjar dan Awal Perang Banjar)

19.

Pangeran Antasari

2 Puteranya; Muhammad dan Machmud)

1859-1862

20.

Pangeran Muhammad

(Mat Seman)

Habis Perang Banjar dan awal jaman normal

1862-1905

21.

8 Maret 1942, Pendudukan Jepang

1942-1945

22.

17 Agustus 1945, Jaman Republik Indonesia


JAAR – SANGGARWASI

1.

Risak & Biyoko

1360-1370

2.

Uria Gadung

(Putera Raden Panji

diutus untuk memegang Tanah Dusun)

1370-1405

3.

Uria Jannah

1405-1435

4.

Uria Inneh

1435-1480

5.

Uria Lading

1480-1515

6.

Uria Gamarak

1514-1550

-Habis Jaman Pengawasan Raja-Raja Dinasti Hindu Syiwa-

7.

Damhong Jawa

(Dilahirkan waktu Islam masuk

ke Tanah Dusun Kecuali Paju IV

1550-1595

8.

Damhong Halang

(*Uria Mapas Negara & **Puteri Mayang Sari)

1595-1628

9.

Damhong Wato

1628-1650

10.

Damhong Wijaya Meto (Putera Mapas) dan

Si Rapet (anak Patih Talam)

1650-1688

11.

Damhong Wijaya Jati

1688-1735

12.

Damhong Wijaya Arang

1735-1765

13.

Tumanggung Sompok

1765-1790

14.

Tumanggung Gayo

1790-1810

15.

Patinggi Wasi

1810-1835

16.

Patinggi Baris

1835-1859

-Habis Dinasti Raja-Raja Banjar; Belanda mulai memerintah-

17.

Pamakal Nuran

(waktu ini Antasari Long March ke Puruk Cahu, singgah di Jaar hingga kakah Runjang sempat babintih dengan Pangeran Muhammad berikut 2 orang Maanyan Panguma Perangnya Sisayu & Sitanrok)

1859-1868

18.

Pamakal Soir

1868-1880

19.

Pamakal Jangat (Kakah Hoo)

Lebih dikenal dengan Datok Rumbang

1880-1890

20.

Pamakal Banne

1890-1902

21.

Pamakal Pinggan

1902-1915

22.

Pamakal Linggut (Pamakal Tuha)

1915-1935

23.

Pamakal Suwai(Lamhah Nimis)

1935-1945

-Jaman Jepang-

-Jaman RI-

24.

Kepala Kampung Ngaras (Amhah Tode)

1945-1950

25.

Kepala Kampung Juman (Amhah Minding)

1950-1955

26.

Kepala Kampung Wijaya Balantek (Amhah Anjam)

1955-1960

27.

Kepala Kampung Sambung

1960-1965

-G.30.S.PKI-

28.

Kepala Kampung Nyiau

1965-1973

29.

Are Taker Wandin

1973-1974

30.

Kepala Kampung Atie Mungkal

1974-

31

Belum ditulis sampai 2008

*Putera ke-2 Damhong, Ului Unro (Uria Biring) 1551 – 1585 (Gaib)

Dengan Puteri Junjung Buih 1566-1585 (Gaib)

1. Uria Lanha 1568-1599

2. Uria Rinjan (Mapas) 1570-1628

3. Pahulu Suntik 1572-1643

**Yang menamakan Sanggar Jatang menjadi Sanggar Wasi dan Beliau dimakamkan disini

MULAI PINAI WAT MA WUNTO

  1. Wuri jatang wulutan wasi kinuteu jaya tupu kinsau burunama sapuh dato wuwung langit panrungan erang hila talawang rueh makis rawen siwu mangkuwian, bakir hante mangkuwanan kingking uweng tuhi kawi nyauh muser wila ruji palat kawang tuhi kawan peda nyingkir panutean, yeru pinai amah Wuntu mula tataiken itak dangan ilau.Hie wuri maleh lagi tutur manang sawung nanyu.

  1. Wuri Damung Napulangit kinuruhan warah wulau kinurung damung kumpai ngunyup anya wungau raden banta tapus ile wangun kalir sunsang riwut nampuh walang wilis hawi hingka panyalentuk langit tutukan kayu nawa karung minsilaan lehung resbai jupak nyangkau lehung harung minsilaan.Uri rejup taris nyangkan uri, wuri tetei samagilang rampan sapanere lanu tahan nateari jari togok kapunaat nangol. Sumeah imalau kui weah kular pungiuh pupuk wai muka ware dapat tune wuri ngungu tawilas baning putaran unru lajung ngingu satawinas lajang gutuk nanyu nangkur liang wiri ngingu diwata lali ranu nyurung pampang tumai putak janah puang talau isut. Yeru pinai Damung Napulangit tataiken raden warah wulau.

Hie wuri mula maleh tutur manang sawung nanyu naan wuri maleh manang sawung nanyu.

  1. Wuri urang inekep ia amukakang tumu bawu watumuri sansang anri simasusur anri nanyu umpe makarana sima buang malewu antu jatuh kapunaun langit riwu kapumulan tene sangkun umak nelang gawe raya tapapasung nisi jago jano palus jari sima, Panmayau janang tempu karunuken musis teka, teka tampung langit mahajungit lalau anrau. Yeru Pinai amah kunsi nanyu tataiken bapang simang nunra. Hire wuri maleh tutur manang sawung nanyu naan wuri maleh lagi manang sawung nanyu.

  1. Wuri pampang rengkun mulung kalulai jumuhala-jumuhala pagu maleh nyamut watu lilau maleh kayuntakan marah gagah. Wukusu tumu iwu ranu lalan lumpat manyubarang anak piak haut tapuanju anak sima hawi hingka wungkur padang. Yeru pinai jumuhala mula maleh tataiken gana ratu hiang hie wuri maleh lagi tutur manang sawung , naan wuri maleh lagi tutur manang sawung nanyu.

  1. Wuri tetek ni tawarung tumas erang para wangku, aku puang tau tarung daya puang samanuwu, tetek ia itawarung tetek muneng hatampatai, aku puang tau tarung daya aku puang panani, Tetek ia itawarung tumas para ni tangkala, aku puang tau tarung daya puang samabangka, ngia ngiung siding piket tumas para ni wungkalang, pada wuri sapanutuien paket naneo lawang galah tuntang yeru pinai amah Siwu pupuh tataiken bapang tinjau gunung. Hie wuri maleh lagi tutur manang sawung nanyu, naan wuri maleh tutur manang sawung nanyu.

  1. Wuri bungumbang bungkul puris awak matan helai, wuri walu tuntun tungka kareh rana sinruk dewa katamu padang mangkuleh tewu jiwang nalau alah. Hipak ipalapa sunra galis manaping kareh, wuri piak lalai ganta anak nanyu kinuwasa maleh Wahai nanyu nganya anyak euk lungai ngasaeser jatuh ngayak lalau langit riwu ngesur enui anrau kaitus majarumat langit magat jawa matung unru, matung unru kurungku tampak puu aji jatuh, yeru pinai Patis Harara tataiken ganda urai langit. Hie wuri mula maleh tutur manang sawung nanyu, naan wuri maleh lagi tutu manang sawung.

  1. Jari ilap tanang bala wunsiang, nanyu maleh pangkat watu lange lungai pauring hijau manang nyawung, tulu nanyu wawun warung puje lungai lalai lansang, tulu nanyu anya bulang puji, lungai lanjang tapi, niui sarimuwur umu pinang inampulu lawi idar nanyu wuranan gunting simang mape putut wulu, muntika nyumur wawar berang ira baku. Hiku hena wua muntei gulung raja munsun pida palar nimang tipak jaring parei. Humang imalau ranu ipataku malau raja. Yeru pinai Tadung buta maleh tataiken huap nangar gunung. Hie wuri maleh lagi tutur manang sawung nanyu, naan wuri maleh lagi manang sawung nanyu.

  1. Wuri riwut tingara raju selatan nima gunung riwut tingara tangai salatan rakun jejep wari panupi durung bawan ngingunyaru duneng tasik kaleh bokam kapalempen murak suning lelau hiang kauba saw adire ngalap manyang ranu igalepai uma wuah isantaping simang ranu isaundur uma payupuk taping turut tutunwaya kajut hena balai janyar suci nimang ajung muat pulu. Nyelem witu suci pangkat puang wehu RANU ANRUNG nginrang apaui sauh rakit kajumpalis wente babat yeru pinai uria Pundeh mula maleh hampitu murik witu. Hie wuri mula maleh tutur manang sawung nanyu naa wuri maleh lagi tutur manang sawung nanyu.

  1. Uria wuah ingurung libaru bahaya ingalah ingagum sungei wuri ngingu pampuhetan guna pihamsuran widang kuning kala teah uei wawei minrang siris. Wahai lako wuri samatakut kame marawan ringi kayang pada wuri putak pinyau malawen asal rakabaliwasi. Yeru pinai Patis Bahungen wuri ngingu taneli ureu. Hie wuri mula maleh tutur manang sawung nanyu naan wuri maleh lagi tutur manang sawung nanyu.

  1. Wuri baju mainisi gambar tuga renrun item, hamen aku ngumala wuah mihulap simang ranu, nampan kala sansang wuah niiuang getek, samng ranu hamen lagi aku ngumala naymu mihulap hepun ukui nampan kala sansang nyamu wiuang getek hepun ukui pada aku ngumala roha mihulap simang langit nampan kala sansang rahu nimang getek lalung kupang, ia naretek teung lawu mawading wuku, yeru pinai Patis Mawuyung tataiken gantaamau kuku, hie wuri mula maleh tutur manang sawung nanyu naan wuri maleh lagi manang sawung nanyu.

  1. Sawung nanyu ia itangen wangan tumas erang wangku wau, wuri dana wunsanan banang kinusalinratu, ia itarawen wangan galis inanaping ranu, wuri dana wunsanan banang puang takut muhu kele-kele mamai wawe kedan-kedan manu ulun kapatai manu hang galangang, karupuh piak erang raga, tumang tangulan luat tapuhanri kakau ayau, enem lian ku hingka ayat pitu tamput hi Marangau pitauheut amau anrau, Yeru pinai makilalai mula maleh sihala hampitu erang malem. Hie wuri mula maleh tutur manang sawung nanyu naan wuri maleh lagi tutur manang sawung nanyu.

  1. Wuri batung hamanangul tamiang ingarigis, ingarigis hujung matu ngumar bulang warung tungka wuri nanteweng buyuha nyajak sagalangang nanyu susupan jari sima kuwangan jari nanyu ewah empa jari munsit tantahan janang panyuruk wahai nanyu nganyakanyak euk lungai ngaseesur jatuh ngayak dakulu wuku riwu ngeser hanrian wawei sihala hang tumpa lalan singkahung iwu nunsang enui iyak aur, naing antahu pasiau taulang. Yeru pinai makulayumula maleh tataiken ganda mangkan kaleh pada wuri sapanyalai ulun asal sa nasalai ulun.

  1. Ikilai danu danu tarang kilang erang sipulapa wuri sintar bayang-bayang kalelu baik nyama hi iyu kaanak hi Ewe hi Ewe hi Uta hi Uta kaanak hi Itang hi Itang kaanak hi Imit hi Imit kaanak hi Sabambang hi Sabambang kaanak hi Majawu Lanting hi Majawu Lanting kaanak hi Sakurai Laut hi Sakura Laut kaanak hi Ambang Mahai, yeru asal Ambang Mahai kapatei nanyu Manulun.

  1. PINAI WAT GALEBA

Wuri kilang daun rewaramang, kilang erang sipulapa, wuri sintar bayang-bayang kalelu baik rupa hi Ia kaanak hi Ewe, hi Ewe kaanak hi Uta, hi Uta kaanak hi Itang, hi Itang kaanak hi Imit, hi Imit kaanak hi Angu, hi Angu kaanak hi Galeba, hi Galeba mula maleh wuri nutu niui ganring, nelang nutu nelang nyamut nelang miurah nelang nantawan kaputen erang eley kasamelai erang amak kalatus erang naga kapikaung erang kapijangan titikui wani erang kusi nampuk raja jari danau, yeri pinai Galeba mula maleh.

  1. PINAI WAT KAKAH AJANG

Wuri lanting panyia rayu jakit nanang talanguan ala rayu galis rarah tindak talanguan jarah utek unyah sampung ajung galis tapuile jungkit pilu jarah tapupuser, taping lanting mamuhara hanyut jakit tane repai nangu benteng raja galis usak bunai dadung ratu jarah ongoh lapu Banjarmasin galis narui tangan Karang hanyar jarah nyunru lungun tuku Sina sibahum negei warung dagang sinhana ngurut Kantor raja uneng, makan angain balai ratu umak nalu riwut jari riwut pakai rauh ahung janang angin aji nyakai kunu, timarang tatat kareh suut gampar hang pulatar, kakah Ajang mula maleh kaliputi pulau Banjar timarang tatat kareh suut gampat hawa itu pinai amah gansan maleh tataiken kakah Ajang nanyu.

  1. PINAI TINGKA JAWANG LANGIT

Pakai ulun nutung jangka akup, amun haut hampe malem perlu nutung ramai tete Idaran lenganni:

Pinai tingkah jawung langit piut kumuhara bisu karumun napulangit biring muti lawi wlu wuri nipu wuyung mitah sasak guntai iring lalan ia, tapulungu-lungu iwa putut watang wuri anak halimuung asal sakura jatang, ia tapulungu-lungu, lungu iwu putut ari wuri anak halimun asala sakahera wasi, wuri panampare ramai liu nampajah putang lului kame.

  1. PINAI MALEH WAT JARANG

Wuri hijau-hijau tanraanau biring kutai kuta layar muai wani dura the erang sa tampurung batung lisin puang iyuh netei telang teah ware dapat nelan Yeru pinai amah nangkaipapan tataiken bapang nyudah rini, amah kaki kalun bantan elak nalu puja agung.

  1. PINAI DAMUNG LAMUARA TATIKEN RATU GUHA NULUN
Hie wuri mula maleh tutur manang sawung nanyu, nanyu naan wuri maleh lagi tutur manang sawung nanyu, wuri kami balalimpe pea untu wadak supang, wuri dalung kapunyingkang apar umut jangka tapu nyange. Yeru pinai amah Sunding bakulelun munge amas, pusuk jalu maeh rane sunting, yeru pinai damung Ilapnyilu tataiken patis payung anrau.